Minggu, 25 September 2011

Prahara Cedal S


Prahara Cedal S



Hal inilah yang membuat saya jadi bahan olok-olokan semasa SMP. Mereka selalu menggoda saya dengan bilang, “Coba do, ngomong, ‘Sussan’!” Mereka begitu jahat, padahal mereka tahu bahwa lidah saya cacat. Setiap saya berbicara selalu saja saya diejek dengan pelafalan huruf “S” saya yang agak aneh. Saya jadi sedih, rasanya seperti sendirian di tengah keramaian dengan diiringi suara gesekan biola nan pilu. Namun, saya coba tetap tabah dan tegar menghadapi semua ini.

Akhirnya karena penasaran, saya pun bertanya pada orang tua perihal kenapa saya tidak lancar ngomong ‘S’. Saya hampir terkejut mengetahui detail ceritanya. Jadi, pada saat itu saya masih berumur satu tahun lebih sedikit. Tepat, setelah saya pindah dari tempat tinggal yang lama di gang Libra ke Barak TNI AD, Segalamider. Di sana, rupanya lebih luas dari kontrakan di gang Libra. Kebetulan dari kecil saya suka bertualang menjelajahi tempat baru. Waktu itu, saya sangat tertarik dengan selokan belakang rumah yang dalam. Dengan jalan yang masih tertatih-tatih saya lalu mendekat dan terus mendekat. Tapi, karena memang belum seimbang berdiri, saya pun terjatuh begitu saja ke selokan. Mendengar tangis yang begitu keras, orang tua saya keluar untuk menengok. Mereka panik ketika melihat mulut saya yang bersimbah darah.

Dengan sigap, mereka melarikan saya ke rumah sakit. Mereka bilang bahwa pada saat itu lidah saya belah seperti ular, dan itu mengerikan. Akhirnya, saya mendapatkan jahitan di lidah dengan benang yang mirip dengan benang pancing malam itu. Dua hari kemudian, mbah saya datang ke rumah untuk menengok cucunya yang ganteng. Mbah lantas menggendong saya. Kebetulan di umur setahun saya sudah bisa berbahasa Indonesia dan bahasa inggris beberapa belas tahun berikutnya. Jadi, saat tengah asyik menimang. 

Mbah terhenyak, ketika mendengar saya bilang, “Mbah ini mbah.” Sambil menunjukan benang pancing yang tadi ada di lidah saya.
Mbah saya panik dan memanggil ibu saya, “Ta, ini ta! Edo ngelepasin jahitanya.” Setelah saya tanya, “Nangis enggak yah, pas edo narik benangya?” Ayah saya menjawab dengan datar, “Enggak.” Setelah itu orang tua saya buru-buru membawa saya ke dokter Busyro. Padahal sebenarnya, jahitan itu baru bisa dibuka setelah satu minggu. Tapi, saya melepasnya pada hari kedua. Kata dokter Busyro, “Itu tidak apa-apa. Anak-anak kan cepat masa pertumbuhanya.” Jadi, saya tidak perlu mendapatkan jahitan ulang, yeah.

Kabar buruknya, sebelah sisi lidah saya tergulung sedikit ke belakang hingga menjadi panjang sebelah dan cacat permanen. Ini berdampak, saat saya coba melafalkan huruf “S” Ada sedikit udara keluar dan membuat ini terdengar sedikit mendesis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar