Jumat, 07 Oktober 2011

Cerita Di Balik Ucihasantoso


Cerita Di Balik Ucihasantoso


            Berawal saat saya memasuki masa 6 bulan pendekatan dengan si dia, Tepatnya pada februari 2011. Saya melihat banyak hal menarik dari kisah ini. Lalu, untuk menindaklanjutinya saya membuat sebuah grup di facebook. Guna berbagi soal tips trik PDKT. Tapi, tampaknya tidak banyak yang tertarik. Karena, teman saya bilang bahwa saya belum punya pacar.

            Hal tentang punya dan tidak punya pacar mewarnai pencarian dalam otak saya. Seiring berjalanya waktu saya mulai paham bahwa pengetahuanlah yang terpenting. Anda boleh saja berpacaran sebanyak yang anda mampu. Tapi, saya tidak pernah mendengar bahwa jumlah pengalaman pacaran. Berbanding lurus dengan kemampuan memahami wanita.

            Jadi, dari pemikiran itu saya berkeputusan untuk memperdalam ilmu dengan hanya meneliti satu wanita. Saya terinspirasi oleh kata seorang pakar kencan, Ronald Frank. Dia bilang bahwa, “Semua wanita itu sama.” Ya, setelah saya membaca The Female Brain dan The Male Brain saya tahu bahwa dia benar. Otak kedua gender memang tercipta dengan kebutuhan yang berbeda. Semakin banyak yang saya ketahui tentang wanita. Semakin menyenangkanlah permainan ini.

            Saya hanya menulis yang sudah saya lakukan dan pikirkan. Diawali oleh keingintahuan akan cara kerja otak manusia terhadap Cinta. Posting demi posting bertambah dan menjadi makin ilmiah. Orang berkata bahwa tulisan saya terlalu teoritis. Tapi, saya tidak terlalu peduli dengan kata mereka. Karena, saya tahu bahwa kelak akan banyak orang yang tidak puas dengan penjelasan dangkal. 

            Di awal kemunculan blog, rasanya seperti kekecewaan. Berhari-hari tanpa pengunjung dan statistik sulit bergerak dari angka nol (0). Semua panduan SEO telah coba saya ikuti dan ada nasihat bijak tentang traffic. Bahwa semua usaha perlu waktu untuk berhasil. Saya ikuti petuah itu ditambah lagi saya percaya bahwa kontenlah yang membuat sebuah blog tetap bertahan.

             Saya membatasi posting hanya 1 bulan 2 kali dan tidak boleh lebih. Kenapa? Ini untuk menjaga mutu dan membuat semuanya terlihat lebih teratur. Posting pun saya upayakan seunik dan sesesuai mungkin dengan kebutuhan orang. Butuh waktu 2 minggu hingga beberapa bulan guna menyempurnakan sebuah artikel. Baik itu dari segi EYD, ide, dan juga sisi ilmiahnya. Bagian tersulit adalah menemukan ide karena memang inilah dasar sebuah posting.

            Ide biasanya saya dapatkan dari pemikiran dan percobaan pada objek bersangkutan. Lalu, hasilnya saya ingat dan saya olah dalam otak untuk selanjutnya ditulis. Seperti ide tentang teman saya yang sudah berkorban banyak tapi, masih tidak bisa mendapatkan cewek. Saya terpikir untuk memasukan dia ke dalam golongan cowok baik. Lalu, posting saya kembangkan dengan lebih banyak fakta ilmiah.

            Hasilnya banyak orang yang mengakui bahwa posting “Tipe Cowok yang Paling Gampang Ditolak Cewek” Telah membawa perubahan pada cara pikir mereka soal PDKT. Saya sebisa mungkin menghindari pemakaian gaya bahasa yang terkesan menggurui. Posting memang terlihat seperti terlalu banyak ide di dalamnya tapi, itulah saya. Susunan artikel telah dimantapkan dengan urutan prolog, pengantar, kata bijak, isi, dan daftar rujukan.

            Untuk menunjang promosi dan menjaring lebih banyak interaksi aktif dengan pembaca. Saya juga memanfaatkan grup tadi dengan merubahnya jadi ucihasantoso wordpress share. Kenapa saya tidak banyak menceritakan soal hubungan saya dan dia? Karena saya tahu bahwa banyak hal dalam kisah Cinta saya yang agak aneh. Seperti: Usaha merebut dia dari pacarnya dulu, teknik-teknik untuk membaca bahasa tubuh, metode mengulur tanpa terlepas, dan banyak lagi.

            Saya juga menemukan bahwa cara paling romantis untuk mencintai wanita adalah dengan mempelajarinya. Jika raja-raja jaman dahulu membuat monumen dan bangunan megah untuk isterinya. Saya tidak punya kekuasaan sebanyak itu. Hal yang bisa saya lakukan hanyalah mencari kata yang lebih tinggi dari “Perhatian dan pengertian”. Serta mencari hal yang tidak bisa ia lupakan tentang cara saya mencintai dia dengan seluruh kecerdasan yang saya miliki.

Pendidikan yang Tidak Mencerdaskan


Pendidikan yang Tidak Mencerdaskan


            Sedikit kritik sosial dari pengenyam pendidikan formal negeri ini, mungkin bisa bermanfaat. Saya merasa telah terlalu banyak membuang waktu di sekolah. Seingat saya waktu sekolah dulu, guru dari beberapa bidang studi datang bergantian. Ada yang saya suka dan ada juga yang tidak. Tahukah anda bahwa sebagian besar perkembangan murid dipengaruhi gurunya. Jika gurunya baik maka, baik pula hasil didikanya.

            Saat melihat layar televisi, saya terperangah melihat kelakuan brutal anak-anak SMA. Saya jadi bertanya, “Apakah memang anak-anak ini terlahir brutal? Atau memang mereka yang terkondisikan begitu?” Hal yang lebih mencengangkan lagi adalah, mereka melakukanya saat masih berseragam. Bagi saya, saat seseorang memakai seragam itu menandakan mereka adalah “Generasi penerus bangsa dari golongan terpelajar”.  Stop membicarakan ini! Karena, saya tahu mereka hanya golongan kecil saja.

            Sekarang mari kita lihat para pelajar yang berprestasi! Mereka meraih banyak medali emas dari olimpiade sains internasional. Mengalahkan banyak Negara maju. Tapi, coba lihat! Apakah diantara anak-anak cerdas ini ada yang pernah memenangkan Nobel dalam bidang inovasi? Kenapa justru yang memenangkanya adalah mereka yang dari kecil hanya berkutat pada bidangnya? Kenapa bukan kita yang jelas-jelas tahu banyak hal? Apakah semakin banyak hal yang dipelajari justru, akan malah semakin mendangkalkan pengetahuan?

            Syukurlah pemerintah sekarang sudah mulai paham permasalahan pendidikan dengan memperbanyak sekolah kejuruan. Diharapkan, ketika lulus merekalah yang akan membuka lebih banyak lahan pekerjaan. Tapi, bagaimana dengan lulusan SMA yang tidak punya keahlian khusus seperti saya? Apakah saya harus terus memberatkan orang tua hingga nanti mendapatkan kerja? 

            Saat banyak orang dewasa meributkan masalah moral anak ABG. Tidak pernahkah mereka berpikir bahwa pelajaran Agama hanya 2x45 menit dalam satu minggu? Kenapa ketuhanan diletakan pada sila pertama sedangkan implementasinya begini? Saya memang bukan orang yang berhak mengatakan tentang kata “Seharusnya”. Lalu, ketika merasa dirugikan oleh sistem ini. Saya tidak tahu harus meminta pampasan ke mana.

Bocoran Soal Kalkulus


Bocoran Soal Kalkulus


            Kalau tidak salah, 90% kemajuan murid itu dipengaruhi oleh guru. Nah, kebetulan saya sekarang mendapatkan dosen kalkulus yang bagus. Dia menjelaskan matematika seperti sepotong kue. Tadinya saya hanya belajar setiap malam sebelum kuliah kalkulus. Seiring dengan eskalasi tingkat kesulitan, saya pun juga mengintensifkan latihan. Ujian pertama di Kalkulus I membuat saya terkejut bukan main. Pasalnya, selama 12 tahun sekolah, saya hanya bisa mencapai paling tinggi nilai 5, jika mengerjakan sendiri.

            Namun, kali ini saya bisa mendapat nilai nyaris sempurna. Kalkulus I selesai dan sekarang kita beralih ke Kalkulus II. Tren positif terus terjaga hingga suatu hari saya menyadari, bahwa saya tidak bisa menikmati hasil ini sendiri. Saya melihat banyak teman saya sangat kesulitan dan terengah-engah mengerjakan ini.Inisiatif saya tergerak untuk membantu mereka. Waktu kalkulus I memang ada teman saya yang suka main ke rumah untuk minta diajarkan. Tapi, ketika kalkulus II mereka tidak lagi ke sini.

            Karena tahu bahwa saya tidak punya waktu untuk memberi mereka tambahan. Saya pun berpikir soal cara singkat. Kebetulan waktu itu karena murid yang banyak. Kelas akhirnya dibagi jadi dua: Pagi dan siang pada hari yang sama. Celah itu muncul ketika tahu bahwa ternyata soal ujian untuk kelas pagi dan sore sama. Percobaan pertama: Saya memanggil teman saya Dika untuk memberinya bocoran. Ternyata berhasil dan ia tidak ketahuan. Percobaan kedua: Saya lalu memanggil beberapa teman dekat saya dari kelas siang lainya. Mereka pun mencatat soal yang saya tulis di kertas coretan.

            Ujian memang dilakukan beberapa kali. Lalu, setelahnyalah dipilih dua tertinggi diantaranya guna dijadikan nilai UAS dan UTS. Kembali ke cerita teman-teman saya! Satu minggu berselang dan akhirnya saya mendengar dari teman saya bahwa mereka ketahuan. Satu kelas diamuk dosen dan katanya mengerikan. Seseorang diantara mereka menyebut nama saya. Wow! Sedikit terkejut dan terbayang bahwa dosen akan menghempaskan kepala saya ke tembok. Teman saya bilang bahwa nilai saya dikurangi.

            Hal yang saya takutkan bukan soal nilai. Tapi, ini soal kewenangan dosen untuk mencoret peserta didik. Ya, saya harus menghadapi ini, diomeli atau bahkan dicerca. Namun, saya ingat beberapa hal tentang psikologi. Di hari saya akan dihakimi. Saya sengaja berpakaian yang sangat rapih dengan kemeja hitam lengan panjang dan celana dasar. Memang saya biasa rapih tapi, tidak pernah serapih ini. Teman-teman saya beberapa kali bertanya alasan saya berpakaian begini (maklum anak teknik). Lalu, saya jawab, “Tidak apa-apa. Memang sedang ingin rapih.”

            Tiba jam masuk kelas dan kuliah dimulai dengan tatapan sangar Bu dosen. Dia berkata bahwa ia amat kecewa dan merasa salah sudah percaya dengan kami. Lalu, saat sedang marah tadi, ibu itu langsung menyebut nama saya, “Edo! Kamu yang membocorkan ini. Ini inisiatif kamu atau mereka yang meminta?” Saya jawab, “Mereka yang meminta coretan saya Bu.” Ibu itu sepertinya kurang percaya, “Benar bukan kamu yang justru menyerahkanya sendiri?” Dengan tegas saya jawab, “Iya Bu.”

            Anehnya ibu itu tidak semurka seperti yang digambarkan semua anak kelas siang. Saya pikir manipulasi saya berhasil. Pakaian rapih melambangkan kepribadian yang gigih, taat peraturan, disiplin, alim, dan penyuka angka. Setelah selesai marah-marah yang ternyata hanya berjalan singkat. Dia melanjutkan kembali kuliah dengan sesekali melihat ke arah saya sambil bilang, “Kalau memberi tahu cara/jalanya itu boleh.”  Di akhir kuliah dia menceritakan tentang orang-orang yang juga pernah mencurangi ujianya. Mereka semua berakhir dengan nilai nol (0).

            Ya, namanya bahasa tidak langsung. Saya bisa paham bahwa ibu itu masih memberi dispensasi pada saya. Jadi, saya pun berterimakasih pada bu dosen karena tidak menghanguskan nilai saya. Memang, sebelumnya Dika teman baik saya dari kelas siang bersedia membela. Katanya, ia  mengirim SMS ke bu dosen. Mungkin itulah yang membuat murka ibu itu jadi lebih reda. Namun, yang saya heran adalah saat tahu nama orang yang menyebutkan saya sebagai pembocor ternyata kurang saya kenal.

            Ceritanya bermula saat bu dosen curiga dengan peningkatan dramatis 4 orang tertentu di kelas siang. Dia yang tadinya mendapatkan nilai 2 kini malah bisa mendapatkan nilai nyaris sempurna. Bahkan jadi yang tertinggi di kelas. Kecurigaan terbukti saat 4 orang ini (dikurangi Dika karena tidak masuk) disuruh maju ke depan. Mereka diharuskan mengerjakan soal yang sama. Ternyata tak seorang pun dari mereka mampu mengerjakanya.

            Peningkatan drastis ini juga dialami oleh seluruh peserta kelas siang. Jadi, keputusan ibu itu adalah “Mengulang ujian” denga soal hukuman. Teman dekat saya dengan lirih mengutarakan empatinya pada kakak-kakak tingkat yang tidak tahu apa-apa. Memang salahnya, teman dekat yang saya beri bocoran ini malah mengerjakan soal di kosan orang. Sehingga seluruh makhluk bisa leluasa meng-copy-paste hasilnya.

            Dua dari empat orang yang ketahuan itu sudah saya maafkan.Tapi dua yang tidak terlalu saya kenal ini. Bukanya minta maaf dan mengaku atau minimal bicara baik-baik. Mereka malah melenggang saja bahkan di depan saya tanpa menegur sedikitpun, “Benar-benar cacat adat.” Ujar saya. Akhirnya soal yang tadinya sudah ada 5 kode pun dibagi lagi jadi kode pagi dan siang. Dengan ini saya yakin tidak akan ada lagi kebocoran. Maaf ya bu karena sudah, mempersulit ibu dengan mengoreksi 10 varian soal.