Senin, 24 Juni 2013

[BodrexJuaranyaCepat] Salah Minum Obat Tapi Tetap Selamat


          Hari kamis kemarin adalah jadwal saya presentasi kuliah manajemen lingkungan dan UAS pengelolaan kualitas lingkungan. Tapi di hari itu konsentrasi saya buyar, lantaran terjangkit flu dan pilek. Rasanya kanan-kiri dahi sebelah bawah saya seperti terisi cairan. Ditambah lagi oleh hidung yang terus meler seencer minyak goreng. Malangnya, pagi itu pula saya presentasi tepat di bawah hembusan udara AC. Beberapa kali saya mesti ke luar ruangan guna menguras ingus. Selesai makan siang, saya pun balik ke kampus untuk ikut UAS dengan membawa beberapa helai tisue.

Bodrex yang ada di saku saya
Semua tisue tadi celakanya tak’ pula mampu membendung laju ingus encer saya. Karena tidak tahan, saya izin keluar sebentar untuk menyeka ingus. Selesai mengerjakan UAS penderitaan rupanya belum berakhir. Saat pulang mengendarai motor, saya dibuat risih oleh ingus yang menggelontor tanpa kendali. Lantaran tidak kuat lagi, saya kemudian menyempatkan diri membeli satu papan Bodrex di warung dekat rumah. Tibanya di kediaman, saya langsung meminumnya dan dilanjutkan dengan istirahat siang.

            Ketika bangun sore harinya, badan saya terasa segar, kepala ringan, dan ingus pun terhenti. Namun lima belas menit kemudian, pilek dan flu tersebut kembali menyerang. Penasaran kenapa sudah minum obat tapi masih pilek, saya pun melihat Bodrex apa yang dibeli. Ternyata itu adalah Bodrex untuk sakit kepala. Beruntung, saya tidak mengalami efek samping apapun. Akhirnya, saya pergi lagi ke warung tadi guna menukar obat dengan Bodrex Flu & Batuk. Karena sudah dikonsumsi satu tablet, saya harus menambahnya dengan uang lima ratus rupiah.

            Keadaan seketika kritikal ketika lepas maghrib saya harus segera berangkat ke Jakarta. Saya khawatir obat ini menyebabkan kantuk dan membutuhkan istirahat cukup dalam penyembuhanya. Apa boleh buat demi kelancaran acara esok, saya harus tetap menenggak Bodrex. Sekitar pukul 21:00 semua gejala flu dan pilek tadi sepertinya sirna. Tapi tunggu dulu! Masih ada perjalanan menyeberang Selat Sunda dengan kapal RORO. Saya agak cemas sebab paginya melihat berita bahwa cuaca di laut sedikit kurang bersahabat. Saya berpikir pastinya akan terjadi banyak guncangan di kapal yang bisa menyebabkan mual. Saya lalu berniat mengantisipasi dengan membeli obat anti mabuk. Namun, kata ibu saya, “Jangan (sembarang) minum obat lebih dari satu jenis!”—mau tidak mau saya pun menurutinya.

            Selama di kapal saya menghindari sekali diam di dalam kabin—karena takut mual. Saya lebih memilih untuk mencari posisi di geladak atas kapal. Hampir lima jam tiada henti ditampar angin laut yang dingin dan lembab, badan saya rupanya tidak apa-apa. Mengaggumkan sekali, bahkan selama di bus menuju Cikokol pun tak’ tersisa lagi gejala-gejala flu dan pilek yang dari kemarin mendera. Keadaan tubuh yang kurang tidur plus lelah selama perjalanan juga tidak sama sekali membuat saya terserang flu kembali.

            Paginya setiba di Jakarta, jam 09:00 saya harus mengantarkan adik untuk wawancara kerja di Plaza Aminta. Seperti saran kawan, sorenya saya pun pulang naik angkot ke stasiun Kebayoran dengan tujuan Pondok Ranji guna selanjutnya menumpang angkot lagi ke Bintaro. Tak’ seperti adik saya yang saat di kereta commuter (mengeluh) kelelahan dan sakit kepala—karena kurang tidur. Saya malah merasa sehat dan lupa kalau kemarin mengalami flu yang menyebalkan. Bodrex harus diakui bukan hanya terjangkau, reaksinya pun cepat, aman, tidak menimbulkan kantuk, serta efektif.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar