Selasa, 09 Oktober 2012

Indonesia Terang Benderang 2020


            Sebelumnya saya ucapkan selamat hari listrik nasional ke-67. Pada kesempatan ini juga saya sekaligus hendak mengapresiasi upaya Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyelenggarakan kontes ini. Seperti yang kita tahu, belakangan marak unjuk rasa dan aksi anarkis dalam menyampaikan aspirasi atau keluhan terhadap pelayanan PLN. Ajang ini merupakan wadah yang tepat serta kreatif guna menyuarakan hal tersebut.

            Listrik merupakan infrastruktur kunci pendukung kemajuan suatu bangsa. Namun, kenyataanya masih banyak saudara kita di pelosok sana yang belum sepenuhnya merasa merdeka karena tidak tersambung listrik. Visi 75/100 PLN  pada tahun 2020 merupakan jawaban atas hal ini. Walaupun, dalam pelaksanaan terdapat banyak aral melintang. Seperti kendala pendanaan, sulitnya mendapatkan pasokan gas dan batu bara, topografi unik Indonesia, inefisiensi, mindset birokrat, dsbg.

            Masalah rupanya tidak cuma di mereka yang belum terlayani listrik. Tapi, juga ada pada kami yang sudah menikmatinya. Bisa dibilang, di luar Jawa-Bali pasokan listrik kritis. Sering terjadi pemadaman bergilir, daya kurang stabil, serta ketersediaan pasokan yang tidak sesuai dengan pertumbuhan lokal. Bahkan, di daerah penghasil utama gas alam dan batu bara sekalipun, kelistrikanya tergolong miris. Listrik padam seharian hingga mengganggu kegiatan perekonomian.

            Pemerintah juga kerap tidak bijak dalam menyikapi problem operasional PLN. Contohnya usulan kenaikan TDL yang sempat heboh kemarin. Wacana ini dinilai lucu. Karena yang sebenarnya terjadi adalah pembangkit PLN banyak yang menggunakan BBM. Terang saja saat harga minyak dunia melonjak Biaya Pokok Produksi (BPP) pun ikut naik. Alih-alih mencari solusi sistematis jangka panjang, pemerintah justru memilih opsi mengurangi subsidi.

            Mungkin saya mulai keluar jalur dengan menyinggung soal political will pemerintah. Tapi sebagai rakyat, setidaknya saya memiliki beberapa harapan untuk PLN ke depanya: (1) Tarif yang tidak hanya didasarkan kuantitas tapi juga kualitas. Tidak adil jika listrik kualitas Jakarta disamakan tarifnya dengan listrik Kalimantan. (2) Insentif bagi pelanggan yang melakukan penghematan listrik. (3) Adanya kampanye penghematan yang lebih masif dengan menggandeng Kominfo sebagai mitra PLN. Perlu ditumbuhkan kesadaran bahwa lebih mudah menghemat 1 MW ketimbang membangkitkanya. (4) Efisiensi serta transparansi ongkos produksi. Ini diharapkan akan berimbas pada murahnya harga listrik di tingkat pelanggan. (5) Mungkin terdengar aneh dan agak mahal tapi, saya berharap PLN mau mencoba menyediakan unit penyimpan daya. Unit ini berfungsi sebagai penyimpan kelebihan daya Jika generator dioptimalkan pada jam normal. Daya yang tertampung nantinya digunakan untuk menutupi kekurangan saat beban puncak. (6) Kebijakan listrik masa depan yang ramah lingkungan. (7) Optimasi struktur organisasi PLN. (8) Tercapainya kemandirian energi tiap daerah dengan mengandalkan pembangkit-pembangkit lokal bertenaga terbarukan. (9) Berkurangnya angka pencurian listrik. (10) Kualitas listrik yang lebih baik bagi pelanggan non Jawa-bali. (11) Berkurangnya ketergantungan PLN terhadap BBM. (12) Akselerasi pemberantasan praktek percaloan sambungan listrik.

            Saya harap dengan begini PLN sanggup menghemat lebih banyak subsidi. Sehingga bertambahlah anggaran untuk mewujudkan visi Indonesia 100% teraliri listrik tepat 75 tahun kemerdekaan pada 2020. Namun, bagi saya 75/100 semestinya dibarengi dengan visi 24/365. Listrik tidak hanya dinikmati 100% rakyat tapi juga 24 jam sepanjang tahun. Kita harus tunjukan bahwa Indonesia mampu seterang-benderang Eropa dan negara maju lainya jika dilihat dari atas satelit.


Bukti follow

Bukti share twitter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar