Senin, 08 Oktober 2012

[GoVlog-Extra Joss] Keceriaan di Bantaran Way Kuripan

 
Way Kuripan dari atas Jembatan Beton
Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk berkunjung dan melihat langsung keseharian masyarakat bantaran Way Kuripan di Kelurahan Gedung Pakuon, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung. Letak permukiman yang dikunjungi ada di bawah jembatan beton zaman Belanda Jln. R. E. Martadinata. Begitu menitipkan motor di salah satu rumah penduduk, saya langsung menyusuri gang ke bawah jembatan. Saya lantas menanyakan rumah Pak RT setempat. Warga sekitar menunjukan saya rumah Pak Edy Jen Ketua RT 01.
            Saya memperkenalkan diri dan menyatakan maksud serta tujuan datang ke sana. Pak Edy yang kala itu berkaus hitam tanpa lengan, menyambut saya dengan ramah. Lewat informasinyalah saya mengetahui bahwa sebagian besar penduduk setempat bekerja sebagai kuli panggul gudang dan tukang becak. Pendapatan sehari-hari mereka tidak menentu. Kadang Rp.25.000-50.000 atau bahkan tidak dapat sama sekali. Menyangkut qurban, daerah ini ternyata tidak pernah menerimanya.
Pemandangan Jembatan Beton dari bawah

Gang sempit di permukiman Jembatan Beton
Jalan di bantaran Way Kuripan
            Masih menurut Pak Edy, perkampungan Jembatan Beton mulai ada sejak awal 70-an. Status kepemilikan tanah di sana sudah atas nama pribadi. Luas rata-rata rumah penduduk sekitar 5x5 m. Melihat lingkungan permukiman yang dipenuhi gang sempit dan tepat di bantaran sungai, saya sempat menanyakan tentang kesehatan warga setempat. Syukurlah, warga di sini tidak pernah terjangkit wabah penyakit menular, DBD, cikungunya, diare, disentri, atau penyakit lain yang disebabkan sanitasi buruk. Warga juga masing-masing sudah memiliki ASKES dan JAMKESMAS.
Jembatan Beton R. E Martadinata
            Pak Edy Jen sempat menuturkan bahwa kadang ada bantuan dari pemerintah kota dalam bidang kesehatan dan gizi balita. Lingkungan ini juga mendapat jatah Fogging Pemkot. Tapi, Pak Edy pernah menolak hal tersebut dengan alasan asap yang dikeluarkan tidak tersirkulasi dengan baik—sehingga rawan memicu sesak nafas. Setelah mendapat cukup informasi saya pun melanjutkan penelusuran.
WC umum di sepanjang Way Kuripan
            Langkah kaki menuntun saya ke perkampungan selanjutnya di sekitar jembatan Jln. Ikan Sebelah. Melihat banyak WC umum di sepanjang jalan, saya pun mampir ke sebuah rumah panggung untuk menanyakan hal tersebut. Kali ini ada pasutri tua etnis Bugis yang menyambut saya. Tidak seperti kehidupan dan tampang mereka yang sangar. Penerimaan yang saya dapat rupanya sangat hangat. Beberapa orang yang lewat di depan rumah pun menyempatkan diri berhenti dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Sama seperti tempat pertama, daerah ini juga hampir tidak pernah menerima qurban—kecuali para janda jomponya.
Jembatan Jln. Ikan Sebelah
Rumah panggung di sekitar jembatan Jln. Ikan Sebelah
            Sayang, kali itu saya lupa menanyakan nama pasutri tersebut. Namun, yang sempat saya catat adalah rumah mereka yang beralamat di Gg. Buntu, Jln. Ikan Sebelah, RT 33, Lk. 3, Kel. Pesawahan, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung. Berkenaan dengan pertanyaan mengenai fasilitas air bersih. Mereka menuturkan bahwa air tanah di sana tidak layak minum: Warnanya kekuningan serta berminyak jika diendapkan semalaman. Keadaan ini sesekali memaksa warga menggunakan air sungai untuk mencuci baju. Karena jika dipaksakan merendam dengan air sumur, pakaian bisa kusam kekuningan.
Way Kuripan di Kel. Pesawahan
            Untuk memenuhi kebutuhan air minum warga memanfaatkan hidran umum PDAM. Tiap ember dikenai tarif Rp.100 sedangkan, untuk jerigen ukuran 25 L Rp.500. Hasil uang yang terkumpul digunakan untuk membayar biaya PDAM. Mungkin ini tidak ada hubunganya dengan judul di atas. Tapi, setidaknya berguna bagi saya mahasiswa teknik lingkungan. Dengan ini saya bisa meninjau langsung kaitan antara pendapatan, kualitas sanitasi, kesehatan, dan kesejahteraan.
Anak-anak bermain di dekat perahu nelayan

Bocah yang kebetulan minta difoto
            Satu hal yang mencolok di sepanjang perjalanan saya adalah gerombolan anak kecil yang riang bermain di atas perahu-perahu nelayan. Mereka tidak menghiraukan kurangnya lahan bermain, tercemarnya air sungai, kumuhnya perkampungan, dsbg. Bahkan saat saya berusaha mengambil gambar pun banyak dari mereka yang minta ikut difoto. Tidak kalah dengan bocah, orang dewasa di sini pun punya cara dalam menghibur diri. Sebagian mereka ada yang duduk di depan rumah sambil bercengkerama dengan tetangga, main cabutan kupon rokok, atau sekedar menyetel musik dangdut. Atas pertimbangan hal-hal di atas, saya sangat merekomendasikan perkampungan bantaran Way Kuripan sebagai daerah yang cocok untuk menerima qurban EXTRAJOSS.

 

Contact Person      : Edy Jen (082371363209)

Nama                      : Edo Prasojo
Telepon                   : 081379460128
E-mail                     : prasojo_edo@yahoo.co.id
Twitter                    : @Gunarman

3 komentar:

  1. Terharu deh baca cerita ini. Ini masuk komunitas susah air itu kali ya?

    Makasih rekomendasinya semoga ini menjadi daerah terpilih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo melihat dari jumlah WC umumnya sih kemungkinan besar begitu mbak.. :(

      Btw, sama-sama mbak
      Makasih juga bwt semangatnya :)

      Hapus
  2. congrats, masuk 10 nominator extra joss berani berkurban. semoga menang...

    best regard,
    boomberita.blogspot.com

    BalasHapus