Tampilkan postingan dengan label Vlog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vlog. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Juli 2014

[7 Wonders] Kisah Petualangan Terios di Surga Kopi Lampung-Sumatera Selatan



Ilustrasi petani kopi di zaman kolonial Belanda
Tanaman kopi pertama kali didatangkan ke Indonesia oleh Belanda pada 1696 dari jenis arabika. Kopi ini masuk melalui Malabar, India ke Batavia yang dibawa oleh Komandan Belanda Adrian Van Ommen, yang kemudian ditanam dan dikembangkan di tempat yang sekarang bernama Pondok Kopi, Jakarta Timur. Sayangnya tanaman ini kemudian mati semua karena banjir maka, pada 1699 didatangkan lagi bibit-bibit baru yang nantinya dibudidayakan di sekitar Jakarta dan Jawa Barat yang akhirnya menyebar ke berbagai daerah di Nusantara seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan Timor. Kopi di Sumatera pertama kali ditanam Belanda di Mandailing dan Sidikalang yang kini telah menyebar hingga jauh ke selatan tepatnya di sekitar Lampung-Sumatera Selatan. Kopi terkenal Sumatera antara lain berasal dari Lintong, Mandailing, Gayo, dan Lampung.

Pengelepasan rombongan Terios 7 Wonders
Sumatera Coffee Paradise
Karena itulah Daihatsu pada 2012 mengirimkan ekspedisi Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise guna menelusuri dan mendokumentasi kenikmatan kopi dari berbagai daerah di Sumatera. Penjelajahan Terios 7 Wonders di Bumi Andalas dipimpin oleh Tunggul Birawa dengan sepuluh awak diantaranya: Insuhendang, Bimo S. Soeryadi, Ismail Ashland, Aseri, Toni, Arizona Sudiro, Endi Supriatna, Enuh Witarsa, David Setyawan, dan Rokky Irvayandi. Rombongan berangkat Rabu 10 Oktober 2012 pukul 10:00 dengan tiga mobil Terios Hi-Grade (dua TX bertransmisi automatis dan satu TX manual) dari Vehicle Logistic Center Jakarta yang resmi dilepas oleh manajemen PT. Astra Daihatsu Motor. Misi Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise selain untuk mencicip kopi-kopi Sumatera juga sebagai ajang unjuk performa Terios menempuh ribuan kilometer medan jalan raya Bumi Andalas.

Persiapan petualangan Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise berlangsung selama dua hari di bengkel resmi Daihatsu. Setelah mobil dianggap prima, pemuatan perbekalan pun dilakukan. Saking banyaknya, pada dua mobil perbekalan sampai tidak cukup ditaruh di baris ketiga tempat-duduk-yang-dikosongkan sehingga, peti atap (roof box) dan tas atap (roof bag) terpaksa dipasang. Maklum karena anggota rombongan Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise adalah para wartawan media cetak, elektronik, dan online. Perbekalan ditata serapih dan seefektif mungkin dengan tanpa mengesampingkan aspek keselamatan. Selain hal-hal barusan, persiapan pula meliputi pemantauan kondisi aktual rute yang nantinya ditempuh.

Anggota tim Terios 7 Wonders
Sumatera Coffee Paradise
Perjalanan tim Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise sebenarnya baru dimulai ketika mereka mencapai Bakauheni, gerbang Sumatera. Menjelang subuh rombongan berkonvoi menuju Bandar Lampung. Regu Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise kemudian sampai dengan selamat di Bandar Lampung setelah berjam-jam berlomba melawan truk-truk lintas di jalan Lampung yang tidak sebagus Jawa. Ekspedisi berlanjut dan pada sore hari tim mulai memasuki Liwa. Atribut serta warung kopi bertebaran di penujuru kota ini. Perkebunan kopi rakyat pun turut menghiasi panorama jalan sepanjang Liwa-Danau Ranau. Setelah menempuh perjalanan yang amat panjang dari Jakarta, regu akhirnya memutuskan rehat sejenak di pinggir Danau Ranau sebelum nanti berinteraksi dengan para petani kopi.

Rute ekspedisi Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise

Rute dari Bakauheni ke Liwa tidaklah mulus, lega, dan rata. Ada banyak tikungan, tanjakan, jalan berlubang, bergelombang, dan penyempitan. Hebatnya, Terios dengan mesin 3SZ-DOHC VVT-I-nya nyaris tidak pernah kehabisan nafas melahap trek yang tersaji sepanjang Bakauheni-Liwa. Ketangguhan Terios di medan Sumatera juga tidak terlepas dari dapur pacu empat silinder 1495 cc yang mampu menghasilkan tenaga maksimal 109 PS/6000 rpm. Akselerasi awal Terios dari 0-100 Km/jam ditempuh dalam ± 12 detik. Karakteristik ini membuat Terios cocok dinobatkan sebagai tunggangan para petualang. Lantaran kabin yang luas dan ergonomis berpadu dengan daya mesin yang mumpuni.

Spesifikasi Terios
(Buka di tab baru (open in new tab) untuk memperjelas)

Liwa
Setelah memulihkan tenaga, tim kemudian bergeser ke suatu sentra pengolahan kopi milik Koperasi Unit Desa (KUD) Karya Utama di Sipatuhu. Koperasi ini konsisten mengembangkan bisnis mereka terutama lewat inovasi kopi aroma ginseng dan pinang. Aroma tambahan ini konon berkhasiat baik bagi kesehatan. Kopi di KUD Karya Utama disangrai dalam oven bersuhu 190 0C hingga mencapai tingkat kematangan yang diinginkan. Pencampuran dengan ginseng atau pinang dilakukan juga pada proses sangrai oven. Rasa kopi ginseng dan pinang produk KUD Karya Utama ini begitu nikmat. Selesai mencicip kopi ginseng dan pinang, sekarang rombongan bakal mencoba kopi luwak.

Luwak dan fesesnya
Sentra kopi di sekitar Danau Ranau memang mengkhususkan produknya untuk kopi luwak. Tim cukup beruntung dapat menengok proses terjadinya kopi luwak. Mereka melihat langsung luwak-luwak liar yang ditangkarkan para petani. Patut diketahui bahwa kopi bukanlah panganan utama luwak. Kopi bagi luwak lebih seperti makanan selingan atau cemilan. Kopi luwak begitu mantap lantaran buah kopi yang dimakan adalah yang kualitasnya terbaik. Jika luwak sudah mengudap buah kopi yang disediakan, tinggal tunggu setidaknya enam jam sebelum ia mengeluarkannya kembali dalam bentuk gumpalan-gumpalan biji kopi. Selama proses pencernaan, biji kopi mengalami fermentasi alami dalam perut luwak yang kemudian diekskresikan melalui feses. Walau judulnya feses tapi MUI sudah menyatakan kopi luwak halal konsumsi.

(Buka di tab baru (open in new tab) untuk memperjelas)

Gumpalan-gumpalan biji kopi dari feses luwak selanjutnya dibersihkan dan dikeringkan guna pengolahan selanjutnya. Kopi luwak Liwa biasa dipasok ke beberapa hotel di Jakarta dan harganya bisa sampai 1,9 juta/Kg. Namun dibalik keistimewaan kopi luwak terselip sejarah getir yang menyertainya. Menurut riwayat, kopi luwak hadir sebagai respons terhadap cultuurstelsel (tanam paksa) Belanda di awal abad delapan belas. Petani kala itu cuma boleh menanam dan memelihara saja, sedangkan pemanenan kopi serta pengolahan diserahkan ke Belanda. Para petani yang tidak bisa menikmati jerih payahnya kemudian menyadari adanya sejenis musang yang gemar memakan buah kopi dan meninggalkan feses berupa gumpalan biji kopi di areal perkebunan. Biji-biji itu diambil kemudian dibersihkan, disangrai, ditumbuk, dan diseduh seperti kopi umumnya. Kebiasaan petani mengonsumsi kopi luwak ini akhirnya diketahui Belanda. Setelah Meneer-Meneer Belanda ikut mencoba ternyata mereka juga suka. Kopi hasil pencernaan luwak kualitasnya setara dengan fermentasi di gudang khusus selama lima hingga delapan tahun. Kopi luwak diketahui rendah kafein, tidak terlalu pahit, dan cita rasanya bertahan lama di mulut.

Lahat
Rombongan Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise
disambut Bupati Lahat
Penjelajahan berlanjut kembali, sekarang tim akan mengarah surga kopi lain masih di sekitar Bukit Barisan. Ekspedisi Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise bergerak ke barat laut tepatnya menuju Lahat. Regu tadinya masih agak cemas dengan keadaan di sana, dikarenakan citra Lahat yang kurang aman. Namun, perasaan itu lenyap seketika memasuki kota Lahat sekitar jam delapan malam. Sesampainya, rombongan  disambut langsung oleh Bupati Lahat H. Saifudin Aswari Riva’i dan staf. Tim malam itu mengobrol di salah satu sudut jalan dekat pasar lama Lahat. Bahkan beberapa masyarakat pun ikut kumpul di sana. Kopi lagi-lagi menjadi teman akrab kala berbincang. Pak Bupati Aswari yang juga seorang offroader menuturkan, “Lahat sudah berubah. Citra buruk mulai ditanggalkan dan masyarakat mulai terbuka dengan tamu dari luar. Kami sejalan dengan tim Terios 7 Wonders untuk mengangkat kembali kopi Lahat yang sempat kondang.”, sebagai jawaban kekhawatiran rombongan terkait citra Bumi Seganti Setungguan.

Esok harinya, tim Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise berkesempatan mengunjungi usaha rumahan pengolahan kopi milik Zahari Cikman yang beroperasi sejak 1980. Biji kopi produk Zahari Cikman diolah secara sederhana tapi tetap dengan tidak menghilangkan aroma khas kopi Lahat. Api proses sangrai berasal dari pembakaran batok kelapa. Proses penggilingan dilakukan dua kali guna menghasilkan kopi yang siap saji. Pemasaran kopi produk Zahari Cikman sudah sampai ke luar Lahat, seperti Palembang dan Lampung. Zahari Cikman mampu mengolah hingga 100 kg kopi per hari. Sebagian keluarga Zahari Cikman dan tetangganya rutin membantu proses pemilahan serta pengemasan kopi.

Kopi merupakan salah satu unggulan sektor perkebunan Kabupaten Lahat. Tanaman yang dapat dijumpai hampir di seluruh kecamatan ini berperan sangat besar dalam menopang kegiatan ekonomi Lahat. Luas areal tanaman kopi di Lahat mencapai 114.317 Ha dengan total produksi lebih dari 57.329 ton per tahun. Luas lahan maupun produksi kopi Lahat merupakan yang terbesar di Sumatera Selatan. Kualitas kopi bisa ditentukan lewat tingkat kandungan air bijinya. Umumnya, kadar air biji kopi dari petani berkisar antara 15%-17%. Petani butuh pengeringan empat hingga enam hari untuk mendapat kisaran ini. Petani kopi Lahat biasa menjual hasil tanamannya ke pengumpul atau pasar mingguan. Upaya Bupati H. Saifudin Aswari Riva’i mengangkat kembali pamor kopi Lahat memang harus didukung segenap pihak. Sebab dengan begitu kesejahteraan petani kopi Lahat bakal meningkat yang pada ujungnya niscaya memberi kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Lahat pada umumnya.

Kota Pagar Alam
Menjelang siang, rombongan kembali bergerak menuju Pagar Alam yang jaraknya hanya 48 Km dari Lahat. Kota Pagar Alam terbentuk pada 2001—dulunya daerah ini merupakan suatu kota administratif di Kabupaten Lahat. Perjalanan ke sana melalui trek yang menantang: Berkelok, berbukit, dan berbatu. Untungnya Terios dengan suspensi depan MacPherson strut with coil spring and stabilizer dan suspensi belakang 5 link, rigid axle with coil spring sanggup meredam hentakan selama perjalanan sehingga penumpang di kabin tetap nyaman. Begitu sampai di Pagar Alam rombongan mampir di warung makan 88. Tidak lupa tim juga memesan kopi sebagai pendamping santap. Kopi Pagar Alam aromanya khas dan lembut saat diminum. Pagar Alam merupakan daerah nan sejuk dan hijau yang terletak di sekitar Gunung Dempo.

Ilustrasi petani kopi Pagar Alam dan tim Terios 7 Wonders
Sumatera Coffee Paradise
Regu Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise penasaran dengan perkebunan kopi di Pagar Alam. Kala itu belum waktu panen jadi bukan momen yang cukup tepat untuk berkunjung. Walau demikian, petani kopi tetap melakukan beragam kegiatan di kebun mereka, meski tidak tiap hari, seperti menjaga kondisi pohon dan memetik beberapa buah kopi yang ranum. Kalau musim panen petani bisa memetik sampai lima keranjang kopi per orang. Setelah dipetik biji kopi kemudian dipisahkan dari daging buahnya. Sehari petani di sini bisa mengolah 100 kg buah kopi dan cuma menghasilkan 60 kg biji kopi. Ampas sisa pengolahan kopi biasa dimanfaatkan petani sebagai pupuk organik.

Puas melihat pemisahan biji kopi dari daging buahnya, Tim ekspedisi Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise diundang oleh Alpian—pengolah kopi setempat—untuk makan siang di rumah tepi sungainya. Jalan menuju ke sana tidak mudah. Ada lintasan tidak rata dan tergenang air sungai. Namun rombongan tidak terhenti karena keadaan ini sebab, Terios mempunyai ground clearence yang tinggi. Wajarlah jika sport utility vehicle (SUV) ini jadi salah satu yang terlaris di Indonesia. Regu Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise senang bersantap siang di sana karena, jamuan dihibur oleh suara alam dan gemercik sungai. Tidak lupa kopi Pagar Alam pun disuguhkan sebagai penyempurna makan siang.

Ratu Juliana dari Belanda (1909-2004)
Petani kopi Pagar Alam turun-temurun menjual biji kopi mereka mentah-mentah. Dikarenakan di Pagar Alam belum tersedia pabrik pemrosesan kopi. Biji kopi Pagar Alam kebanyakan berjenis robusta dan sering dijual ke daerah terdekat seperti Lampung. Tidak heran kalau kopi Lampung jauh lebih terkenal daripada kopi Pagar Alam. Lantaran kopi Lampung adalah campuran dari berbagai kopi yang ada di Sumbagsel. Kopi Pagar Alam berkualitas baik sebab di sana kopi ditanam di lahan pegunungan yang sejuk, tanahnya subur, serta tanpa tambahan obat dan pupuk kimia. Bahkan konon, saking spesialnya kopi Pagar Alam, Ratu Juliana dari Belanda sempat memfavoritkannya. Ratu Juliana dikenal sebagai seorang pecinta kopi. Pagar Alam memiliki sebuah kebun kopi yang khusus menghasilkan produk unggul yang dahulu seluruh panennya dikirim ke dapur istana sang Ratu. Perkebunan termahsyur Pagar Alam itu terletak di sekitar Simpang Padang Karet.

Empat Lawang
Lambang Kabupaten Empat Lawang
pada sisi kanan terdapat gambar tanaman kopi
Selesai dengan pesona Pagar Alam, ekspedisi bergeser menuju satu lagi surga kopi di Sumatera Selatan yaitu Kabupaten Empat Lawang. Daerah ini diresmikan sebagai Kabupaten pada 8 desember 2006. Sebelumnya Empat Lawang adalah bagian dari Kabupaten Lahat. Sektor primer perekonomian Bumi Saling Keruani Sangi Kerawati sebagian besar ditopang oleh pertanian (47,16%). Ini terlihat dari bentangan perkebunan rakyat di Empat Lawang sebesar 71.718,25 Ha atau 32% dari luas wilayah Kabupaten. Tanaman yang mayoritas dibudidayakan petani Empat Lawang ialah kopi dengan total luas perkebunan 61.978 Ha (2010). Tidak heran begitu favoritnya kopi bagi masyarakat Empat Lawang hingga mereka sepakat menjadikannya lambang Kabupaten. Pemda setempat juga ikut memperkuat kesan ini dengan menjadikan kopi sebagai motif batik Empat Lawang.

Kopi Empat Lawang cukup khas karena merupakan silangan antara robusta dan arabika. Masyarakat Empat Lawang menyebut kopi sebagai kawo yang diadaptasi dari bahasa Arab “Qahwah”. Pemda Empat Lawang sangat serius mengembangkan kopi sebagai aset ekonomi Kabupaten. Salah satunya dengan melabeli Kawo EMASS pada kopi produk Empat Lawang yang merupakan singkatan Ekonomi Masyarakat Aman Sehat dan Sejahtera. Selain itu, Pemda Empat Lawang juga melakukan banyak program lain untuk memajukan petani kopi diantaranya: Peningkatan mutu kebun agar produktivitas meningkat dan biji kopi yang dihasilkan memiliki cita rasa khas yang konsisten, mendirikan gedung khusus kopi, sambung pucuk, pengembangan kopi organik, petik masak, serta pengelolaan pasca panen lewat pengeringan di lantai permanen atau terpal. Ternyata masyarakat Empat Lawang juga bukan cuma gemar menangguk penghidupan dari biji kopi namun pula memanfaatkan kayunya untuk kerajinan. Bahan baku kerajinan diambil dari batang kopi yang sudah tidak produktif lagi. Karya masyarakat Empat Lawang ini sudah sering diikutkan pameran hanya saja masih sulit bagi mereka memenuhi pesanan berdimensi besar dikarenakan kendala pengemasan dan pengiriman.

Peta sebaran potensi kopi di Lampung-Sumatera Selatan
(Klik untuk memperbesar)

Rombongan Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise akhirnya merampungkan ekspedisi di wilayah Lampung-Sumatera Selatan. Kawasan ini spesial karena terdapat empat dari tujuh destinasi Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise. Dilaluinya beragam trek sepanjang Bakauheni-Empat Lawang turut membuktikan Terios bukan hanya tangguh namun pula aman. Fakta ini ditunjang oleh beberapa kelebihan Terios seperti dual SRS airbag yang sesuai standar keamanan ASEAN NCAP, teknologi anti-lock braking system (ABS) guna mencegah penguncian cakram saat pengereman mendadak, serta desain ukuran ban yang lebih lebar dari varian sebelumnya untuk meningkatkan kestabilan berkendara. Terios yang aman juga masih dilengkapi lagi dengan tipe kemudi rack and pinion with electric power steering yang memudahkan supir mengendalikan mobil. Tidak hanya supir yang kenyamanannya diperhatikan Terios tapi juga penumpang yang dibawanya. Ini terbukti dari tersedianya sistem pendingin udara double blower dan kemampuan kursi baris kedua yang bisa dimundur-majukan terpisah. 

Beberapa kelebihan Terios (Buka di tab baru (open in new tab) untuk memperjelas)


Macam-macam warna Terios

------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Bukti tweet

Bukti follow Twitter

Bukti like Facebook

Selasa, 28 Januari 2014

[KulinerDaihatsu] Berburu Kuliner Palembang di Bandar Lampung


            Sejarah mencatat bahwa sebelum 1964, daerah Lampung masih bergabung dengan Sumatera Selatan. ibu kota Lampung berjarak ±374 Km dari Palembang, kedua kota dihubungkan oleh jalan raya dan jalur kereta api. Melihat itu, tidak heran jika pertautan kedua wilayah ini begitu erat, termasuk soal budayanya. Bukti nyata lain terlihat dari keseharian sebagian penduduk Lampung yang bertutur bahasa Palembang. Masyarakat Palembang di Lampung membawa serta beberapa produk kebudayaannya seperti kuliner dan songket. Jika lama tinggal di Lampung, anda pula akan menemui bahwa tekwan dan pempek jadi sajian wajib di tiap hajatan.

            Kota saya juga memiliki banyak kedai makanan khas wong kito yang menyediakan aneka pempek, tekwan, kemplang, pepesan, dan pindang. Dijamin kalian tidak bakal repot bila ingin mencicipi selera Palembang atau sekedar mencari buah tangan. Ini adalah rekomendasi beberapa tempat yang bisa anda kunjungi:


Pempek Tenda Biru
Pempek Tenda Biru Cab. Kyai Maja
            Warung pempek yang pertama saya kunjungi ini berada di Jln. Kyai Maja no. 40, Way Halim. Tenda Biru bermula dari sebuah warung pempek kecil di halaman samping rumah di Jln. Urip Sumoharjo dekat rel pada sekitar 2006. Dinamai Tenda biru karena dulunya warung ini dinaungi terpal biru. Tenda Biru sampai sekarang sudah memiliki tiga cabang, di antaranya terletak (1) di Jln. Z.A. Pagar Alam no. 57; (2) Jln. Kyai Maja no. 40; (3) Jln. Tamin no. 51. Cabang Tenda Biru di Kyai Maja terbilang bagus karena tempatnya teduh serta parkirnya pun luas. Tenda Biru biasanya ramai saat liburan atau kira-kira di atas pukul 16:00 di hari biasa. Sesekali, bus rombongan dari luar kota seperti Bandung mampir ke sini untuk makan. Menu Tenda Biru relatif lengkap, anda bisa mengeceknya di website resmi sebelum ke sana. Tenda Biru sering menerima pesanan pempek untuk hajatan. Tenda Biru juga melayani pesanan pempek hingga Jakarta, Bandung, dan Bogor. Cabang Tenda Biru di Kyai Maja ini hanya sebagai kedai penjualan sedangkan, lokasi produksi ada di tempat lain.

           

Saat di sana saya memesan model, pempek telur, kulit, adaan, es kacang merah, dan srikaya. Berikut, sedikit ulasannya:


Cuka
Cuka Tenda Biru
Cuka adalah kuah yang terbuat dari campuran air, gula merah, gerusan ebi, bawang putih, cabai, dan asam jawa. Cuka Tenda Biru agak pekat, berwarna gelap, sedap, cukup pedas, dan punya rasa kuat. Cuka Tenda Biru bisa tahan dua hari di luar kulkas. Cuka adalah pembeda produk Tenda Biru dengan kompetitornya. Cuka Tenda Biru disediakan di meja dalam sejenis botol minum polimer.

Pempek Kecil
Pempek Kecil Pempek Tenda Biru
Pempek telur, kulit, pistel, keriting, lenjer, dan adaan adalah tipe pempek kecil. Tekstur pempek Tenda Biru lembut dan empuk dengan komposisi rasa yang seimbang. Pempek Tenda Biru digoreng dalam waktu yang cukup sehingga tidak terlalu kering dan garing. Warna pempek Tenda Biru yang menggoda bakal makin cantik setelah diguyur cuka. Pempek Tenda Biru memakai campuran beberapa ikan sebagai bahan baku. Ketika dimakan bersama, rasa pempek Tenda Biru cenderung didominasi kesedapan cukanya.

Model
Model Pempek Tenda Biru
Model adalah pempek dalam ukuran lebih besar yang dinikmati bersama kuah, bukan cuka. Model diolah dengan cara direbus lalu digoreng yang kemudian diiris sedikit supaya agak merekah dan disajikan dalam kuah kaldu hangat. Model biasanya berisi tahu atau telur. Model Tenda Biru ketika dihidangkan dibubuhi gilingan ebi di atasnya. Tekstur model Tenda Biru sangat empuk dan sedikit kenyal. Porsi model di sini juga relatif dapat mengganjal perut. Kuah model Tenda Biru berisi soun, sedikit daun bawang, dan cacahan timun. Kuah ini rasanya asin-asin sedap dan amat menonjol bahkan ketika dimakan bersama model.

Es Kacang Merah
Es Kacang Merah Pempek Tenda Biru
Sebagai penghilang dahaga saya memilih es kacang merah khas Palembang. Kudapan ini terbuat dari campuran santan, gula pasir, kacang merah yang sudah direbus, gula jawa, dan serutan es plus sedikit susu kental manis ketika penyajiannya. Rasanya segar, manis, dan enak—terutama kacang merahnya yang empuk serta saat dikunyah mengeluarkan sari gula. Es kacang merah di Tenda Biru dihidangkan dalam mangkok. Es kacang merah ini mampu mendinginkan tenggorokan dari hangatnya kuah model serta menetralisir pedas setelah melahap pempek.

Srikaya
Srikaya Pempek Tenda Biru
Cemilan hijau ini baik dijadikan santapan penutup. Terbuat dari campuran telur, santan, pandan, dan gula—cocok dinikmati bersama ketan. Disajikan dalam cangkir kecil lengkap dengan sebuah sendok plastik mungil. Srikaya Tenda Biru rasanya legit dan kentara telurnya. Tekstur srikaya Tenda Biru seperti agar-agar. Ketika dimakan bersama ketan, rasa panganan ini jadi unik. Kita tidak akan lagi fokus ke manisnya srikaya namun, mulai sedikit mengecap gurihnya ketan. Saya baru pertama kali mencicip kue basah ini dan langsung suka.


            Kesimpulan saya pempek Tenda Biru, baik yang disajikan dengan kuah kaldu maupun cuka, lumayan enak, agak kenyal, dan empuk. Harga yang dipatok pun cukup terjangkau. Jika mencicip beberapa kudapan di sini berturut-turut (seperti srikaya, es kacang merah, dan pempek) anda akan tahu bahwa perpaduan rasa legit, asin, pedas, asam, dan gurih mereka harmonis. Ini menandakan hidangan-hidangan di Tenda Biru dibuat dalam satu selera yang sama. Kalian bisa datang ke sini sekali-kali jika ingin mencoba.


Pempek 88
Pempek 88
            Jalan-jalan saya lanjutkan dengan mengunjungi tempat kedua yaitu kedai Pempek 88 yang terletak di Jln. Salim Batubara, Kupang Teba, Teluk Betung Utara. Sepanjang Salim Batubara anda akan menemui banyak warung pempek yang uniknya hampir semua dinamai dengan nomor. Saya tertarik mampir ke Pempek 88 karena pempek di sini terbuat dari ikan Belida. Konon Belida adalah ikan yang paling ideal untuk dibuat pempek. Saya di sini juga tertarik mencoba pempek panggangnya. Karena sebelumnya, saya tidak pernah makan pempek panggang berbahan ikan kelas wahid seperti di Pempek 88.

            Warung Pempek 88 memiliki fasilitas parkir yang memadai. Ketika memasuki halaman anda bakal melihat deretan meja dengan kursi-kursi plastik di dalam; tempat memanggang pempek di pelataran kiri. Pada tembok dekat kasir anda dapat pula melihat papan biru besar yang menghadap ke luar bertuliskan “ASLI BELIDA”. Setelah memesan anda bakal disuguhi teh tawar hangat yang diantar langsung ke meja. Pempek 88 tiap minggunya senantiasa mendapat pesanan untuk acara hajatan. Semua pempek di sini laris kecuali pempek pistel. Pempek 88 juga biasa melayani pesanan dari Jakarta.                                                                                                                                        
           

Sewaktu di sana saya memesan lenggang goreng, kapal selam, dan pempek panggang. Berikut, sedikit ulasannya:


Cuka
Cuka Pempek 88
Cuka Pempek 88 cenderung lebih encer, warnanya cokelat tua, saat ditenggak rasanya pedas menyengat, sedikit manis, sedap, dan kurang terasa asamnya. Jika diperhatikan anda bakal melihat cukup banyak serpihan cabai di dalamnya. Cuka di Pempek 88 diwadahi dalam botol beling berwarna gelap.


Pempek Panggang
Pempek Panggang Pempek 88
Pempek panggang disajikan bersama sambalnya yang berwarna cokelat gelap yang terbuat dari campuran cabai, kecap, dan ebi. Pertama kali mencicipi pempek panggang Belida Pempek 88 saya bingung. Sebab pada umumnya pempek panggang itu agak keras kulitnya dan kenyal di dalam. Sedangkan pempek panggang di sini teksturnya dari kulit sampai ke dalam lunak mirip kue moci. Tapi, ternyata inilah ciri unggulnya. Jika pempek panggang biasa setelah beberapa jam teksturnya mengeras, tidak begitu dengan pempek panggang di sini. Rasa dan teksturnya tetap sama seperti saat baru disajikan. Pempek panggang Pempek 88 juga memiliki rasa yang sangat kuat bahkan mampu mengalahkan sambalnya sendiri. Menurut saya inilah pengalaman baru dalam makan pempek.          

Pempek Lenggang Goreng
Lenggang Goreng Pempek 88
Lenggang goreng adalah kumpulan potongan kecil pempek yang  kemudian digoreng bersama telur sebagai perekatnya. Ini adalah favorit saya karena, di sini pempek bertemu dengan telur dadar. Rasa khas telur yang menyelimuti potongan pempek membuat kudapan ini menyenangkan untuk dikunyah. Lenggang goreng dihidangkan bersama soun, cacahan timun, taburan ebi giling, dan cuka. Lenggang goreng Pempek 88 memiliki rasa yang sedikit kenyal, khas, empuk, dan enak. Ketika dimakan bersama lenggang goreng, anehnya rasa agak asam dan manis cuka justru makin kentara. Berbeda dengan sewaktu cuka ditenggak sendirian yang rasanya lebih dominan pedas.

Pempek Kapal Selam
Pempek Kapal Selam Pempek 88
Pempek kapal selam adalah pempek isi telur dalam ukuran yang lebih besar. Kapal selam Pempek 88 disajikan dalam porsi yang pas. Ukurannya sekitar sekepal tangan orang dewasa. Kapal selam di sini sudah diiris merekah dan disajikan bersama taburan gilingan ebi, soun, dan cacahan timun. Patut diperhatikan bahwa ebi giling di sini teksturnya dibuat sehalus bubuk. Saat berusaha membelah-belah anda juga akan mendapati tekstur yang sedikit kenyal, empuk, dan matang merata. Pempek kapal selam Pempek 88 ringan di mulut; sensasinya luar biasa ketika disantap bersama cuka bahkan, pedasnya pun kalah dan hanya tersisa manis saja. Niscaya otak cuma bakal berkonsentrasi pada nikmatnya pempek Belida ini.


            Kesimpulannya: ada harga ada rupa. Pempek 88 memang sedikit lebih mahal tapi jelas rasa beda jauh dengan pempek biasa. Pempek 88 tidak bersaing di level Tenggiri, mereka spesialis Belida. Pempek 88 sangat terasa ikannya; menurut saya mereka merepresentasikan citra pempek sesungguhnya. Anda wajib coba pempek di sini! Jangan lupa pula bawa sedikit untuk yang di rumah!




            Supaya makin gamblang, anda bisa lihat video saya tentang makanan kedua kedai tersebut di bawah. Maaf bila nantinya ada beberapa kesalahan di sana.

*Ubah ke layar penuh (full screen) untuk tampilan lebih jelas!


Pempek Jalanan

            Bandar Lampung memiliki sebaran penjaja pempek dari pinggiran jalan sampai ke yang keliling-keliling di perkampungan. Harga per biji mereka biasanya di bawah Rp1.000, rasanya lumayan. Sekolah juga kadang jadi tempat yang bagus jika anda hendak mencari pempek murah. Anda bisa menemukan beragam pempek dari mulai lenjer, pistel, sampai panggang. Walaupun pempek tidak jadi menu sarapan seperti di Palembang tapi, cemilan ini tetap amat lekat di hati warga Lampung.






Jumat, 19 Juli 2013

[7Wonders] Dompu: Sebuah Nama Beribu Cerita




            Saya amat terpesona oleh keindahan alam Nusa Tenggara. Savananya yang luas, pantai-pantai yang eksotis, dan penduduknya yang akrab berkuda merupakan keunikan yang luar biasa. Kali ini, saya akan membawa anda lebih dekat dengan salah satu kabupaten menakjubkan di NTB, Dompu.
 
Logo Kabupaten Dompu


Daftar Bahasan:
·        Profil Umum Wilayah
·        Sejarah Dompu
·        Budaya & Adat Istiadat
·        Potensi Wisata Dompu
·        Penginapan
·        Akomodasi
·        Testimoni Turis

Tekan Ctrl + F untuk menemukan apa yang anda maksud!
 
Profil Umum Wilayah
Dompu adalah sebuah kabupaten di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kabupaten Dompu yang ber-ibu kota di Dompu mempunyai delapan kecamatan: Hu’u, Kempo, Kilo, Manggalewa, Pajo, Pekat, Dompu, dan Woja. Kabupaten Dompu berbatasan dengan Kabupaten Sumbawa dan Teluk Saleh di barat, Kabupaten Bima di utara dan timur, serta Samudera Hindia di selatan. Sebagian besar topografi kabupaten Dompu (46,38%) berada di ketinggian 100-500 mdpl. Kabupaten Dompu memiliki luas wilayah 2.321,55 km² dengan jumlah penduduk 218.984 jiwa (sensus 2010). Kabupaten Dompu mempunyai kepadatan penduduk 94,2 jiwa/Km2. Perekonomian Dompu masih dominan ditopang sektor pertanian. Kabupaten Dompu memiliki suhu rata-rata 200-300 C pada siang dan 200 di malam hari.
 
Peta kabupaten Dompu

Sejarah Dompu
            Dompu dahulunya adalah sebuah kerajaan atau kesultanan. Dompu tergolong sebagai kerajaan tertua khususnya di kawasan Timur Indonesia. Menurut sejarah, di Dompu sebelum terbentuknya kerajaan telah berkuasa beberapa Ncuhi (kepala suku /raja kecil). Terdapat empat orang Ncuhi, yakni Ncuhi Hu`u yang berkuasa di daerah Hu`u (sekarang Kecamatan Hu`u), Ncuhi Soneo yang berkuasa di daerah Soneo (sekarang Kecamatan Woja dan Dompu), Ncuhi Nowa yang berkuasa di Nowa, serta Ncuhi Tonda yang berkuasa di Tonda (sekarang wilayah Desa Riwo Kecamatan Woja). Ncuhi Hu`u adalah yang terkemuka di antara tiga Ncuhi lainya.

Legenda mengisahkan bahwa raja Dompu pertama adalah putra raja Tulang Bawang yang dinikahkan dengan Komba Raweanak Ncuhi Patakula yang dulu sempat berkuasa di Woja. Putra raja Tulang Bawang (sekarang daerah Lampung) tersebut sampai ke Dompu karena terdampar di wilayah timur Woja. Berdasar hikayat, Raja Dompu ke-2 diteruskan oleh Dewa Indra Dompu. Lalu berturut-turut Raja ke-3 adalah Dewa Mbora Bisu, yang ke-4 adalah Dewa Mbora Balada, dan selanjutnya hingga raja-raja Dompu islam (sultan).

Letusan Tambora pada 11 April 1815 mengakibatkan tiga kerajaan kecil (Pekat, Tambora, dan Sanggar) yang terletak di sekitar Tambora musnah. Ketiga wilayah kerajaan kecil itu kemudian masuk ke dalam bagian Kerajaan Dompu. Perluasan wilayah Kesultanan Dompu ini dianggap sebagai suatu kelahiran baru. Sejarawan Helyus Syamsudin menuturkan bahwa peristiwa tersebut mendasari penetapan 11 April sebagai hari lahir kabupaten Dompu, yang dikuatkan Perda No.18 tahun 2004.


Budaya & Adat Istiadat
            Kebudayaan Dompu banyak dipengaruhi oleh corak islam. Hal ini terlihat dari upacara adat serta pakaian tradisional yang dikenakan. Upacara-upacara adat tersebut dihelat guna menandai peristiwa-peristiwa penting dalam hidup. Contohnya adalah Nika Ra Nako yang merupakan upacara pernikahan bagi rakyat jelata. Sedangkan, Campo Ra Kaboro adalah upacara pernikahan bagi bangsawan. Teka Ra Ne’e adalah tradisi menumbuk padi yang berjumlah 50-100 ikat di lesung—untuk dijadikan Mu’bu Pangaha atau tepung beras—oleh kaum wanita di lokasi pernikahan. Tumbukan padi ini mengalunkan nada tertentu (Eli Kandei) yang dimaksudkan sebagai undangan bagi para wanita setempat. Mereka yang datang biasanya akan membawa tambahan padi guna ditumbuk bersama.
 
Ilustrasi Teka Ra Ne'e
            Masyarakat Dompu juga punya tradisi merajah pengantin wanita atau Kapanca. Prosesi diawali oleh lima, tujuh, atau sembilan orang ibu. Mereka akan merias telapak tangan dan dahi pengantin dengan titik hitam atau putih. Berikutnya, akad nikah tradisional Dompu yang disebut Lafa. Setelah akad/Lafa, suami lalu digiring ke rumah pengantin wanita. Selama wanita menunggu suami untuk bersanding, ada prosesi lain yang dinamai Nenggu. Saat pertama sampai, suami harus terlebih dulu melakukan Caka atau menyentuhkan ibu jari ke kening istri tiga kali. Esensi Caka adalah sebagai sentuhan awal pria-wanita secara sah untuk pertama kalinya.

            Setelah bersanding, kemudian diadakan acara Tawuri Ro Kamaco atau pemberian selamat, sumbangan, dan bingkisan pada kedua mempelai. Masyarakat Dompu mengenal pula upacara pembetulan letak bayi dalam kandungan ibu yang disebut Salama Loko. Sang ibu akan dibaringkan terlentang lalu, di bawahnya dibentangkan beberapa helai kain tradisional yang diisikan recehan. Setelah itu, lembar demi lembar kain yang menjadi alas ditarik keluar. Kemudian, uang logam yang tercecer dilempar ke arah pintu guna diperebutkan. Acara ini diiringi oleh zikir Asrafal Anam dan do’a-do’a dari para hadirin. Acara biasa dilaksanakan pada pukul sembilan atau sepuluh pagi. Acara ini menyuguhkan kudapan wajib bagi para ibu-ibu, yaitu Mangonco.

Setelah ibu melahirkan, masih ada lagi tradisi Cafi Sari yang merupakan acara bersih-bersih lantai dari bekas persalinan. Bagi bayi, ada ritual cukuran dan penyentuhan kaki pada tanah. Dalam upacara disediakan sedikit tanah kering di atas daun pisang muda dan rebung (Dumu Kakando). Ujung-ujung rambut bayi lalu diikatkan kepingan-kepingan emas murni atau perak yang berjumlah lima, tujuh, atau sembilan. Berikutnya ada Suna Ro Ndoso yaitu tradisi sunatan untuk anak yang telah berusia lima atau enam tahun. Anak-anak yang disunat akan dirias dengan sarung kuning.

            Masyarakat Dompu juga memiliki lumbung padi tradisional yang disebut Lengge-Jompa. Lengge merupakan bangunan panggung dua tingkat yang terbuat dari kayu beratap kerucut berbahan rumbia. Tingkat pertama berbentuk bale-bale yang berfungsi sebagai tempat bersantai. Sedangkan, tingkat paling atas adalah tempat penyimpanan padi. Lengge sama sekali tidak menggunakan paku—melainkan pasak kayu kecil segi empat—serta hanya mengandalkan presisi bagian per bagian. Empat tiang utamanya dialasi batu pipih dan antara tingkat ditulangi empat balok kayu melintang dengan papan pipih sebagai lantainya.
 
Lengge-Jompa
Bentuk bangunan seperti ini memberi manfaat tersendiri. Alas batu dan papan pipih yang menempel di balok tulang berfungsi menghambat tikus naik ke tingkat paling atas. Terbukti, padi yang disimpan di Lengge bisa tahan lama tanpa dimakan hama. Seiring zaman, rumbia kian sulit ditemui dan dirasa kurang kuat, Lengge akhirnya dimodifikasi jadi Jompa. Bentuk Jompa hampir sama dengan Lengge. Hanya saja atap yang digunakan adalah genteng atau seng. Lengge-Jompa dibangun terpisah dari rumah tinggal penduduk. Tujuanya mengantisipasi supaya jika rumah tinggal terbakar, lumbung padi tetap selamat, begitu pula sebaliknya. Tapi, di Dompu sendiri sekarang sudah jarang ditemui Lengge-Jompa. 

Masyarakat Dompu juga masih melestarikan tradisi menenun sarung Tembe Nggoli yang disebut Muna. Tenunan ini berbahan dasar Benang Kapas (Kafa Mpida) yang dipintal manual. Sementara, Tembe Nggoli sendiri memiliki beberapa motif indah seperti Nggusu Waru (bunga bersudut delapan), Weri (wajik), Wunta Cengke (bunga cengkeh), Kakando (rebung), dan Bunga Satako (bunga setangkai). Tradisi ini dapat anda temui di Desa Ranggo Kec. Pajo, Desa Persiapan Temba Lae Kec. Pajo, dan sekitarnya. Harga tenun berkisar antara Rp150.000-Rp1.000.000 tergantung bahan dan jenis pengerjaanya. Muna lazim dikerjakan gadis-gadis remaja untuk mengisi waktu luang.
 
Ilustrasi Muna
Perempuan Dompu juga memiliki pakaian tradisional bernama Rimpu. Pakaian ini dikenakan guna menutupi aurat. Rimpu terbuat dari sarung Tembe Nggoli. Rimpu sendiri terbagi jadi dua jenis: (a) Rimpu Colo yang dikenakan wanita yang telah menikah. Rimpu hanya menampilkan wajah, telapak tangan, dan kaki. (b) Rimpu Mpida yang dikenakan oleh gadis atau remaja. Rimpu hanya menunjukan mata, telapak tangan, dan kaki saja. Saat ini sudah jarang yang mengenakan Rimpu karena telah digantikan kerudung modern.
 
Perempuan Dompu mengenakan Rimpu
 
Lepadi di Dompu
Rakyat Dompu juga memiliki tradisi pacuan kuda yang dinamakan Lepadi. Pacuan ini diadakan tiap tahunya di 5 Km selatan kota Dompu. Uniknya, penunggang kuda yang berlomba adalah anak-anak kecil yang berumur tak’ lebih dari delapan tahun. Tapi, soal keahlian tidak usah ditanyakan lagi. Kuda memang merupakan satwa yang lazim ditemui di Dompu. Daerah ini bahkan dikenal pula sebagai penghasil susu kuda liar. Populasi kuda banyak ditemui di padang rumput sekitar kaki gunung Tambora.


Potensi Wisata Dompu

Pantai Lakey di Hu'u
1. Pantai Lakey :
Kecamatan Hu’u memiliki salah satu tempat berselancar terbaik dunia, yakni pantai Lakey. Tiap tahunnya pantai ini menggelar kompetisi selancar tingkat dunia. Pantai Lakey terletak sekitar 5 jam perjalanan dari kota Sumbawa Besar dan sekitar 1 jam 45 menit dari kota Dompu. Pantai Lakey-Hu’u memiliki 4 jenis ombak sekaligus, yaitu: Periscope, Lakey Peak, Lakey Pipe, dan Cobble Stones.

Pulau Satonda
2. Pulau Satonda:
Satonda yang dikenal juga sebagai Gunung Satonda (289 mdpl) terletak di utara Sumbawa, dengan luas daratan 4,8 Km2. Pulau ini memiliki danau air asin berdiameter 0,8 Km yang terletak tepat di tengah pulau. Ikan yang hidup di Danau Satonda hanya mampu mencapai ukuran 5 cm. Sampai saat ini masih misterius kenapa ikan di Danau Satonda tidak dapat berkembang dengan baik. Pulau Satonda dikelilingi karang yang dihuni beragam ikan hias. Pulau Satonda terletak tak jauh dari pantai Sopanda. Satonda dapat ditempuh sekitar 8 jam dari Sumbawa Besar dan 5 jam dari Dompu. Pulau Satonda juga terkenal dengan mitos menggantung batu permohonan di pohon. Konon jika harapan yang digantung bersama batu telah tercapai, si empunya harus kembali untuk melepas batu tersebut.
 
Tambora dari kejauhan
3. Gunung Tambora:
Tambora pernah menjadi pusat letusan terdahsyat dalam sejarah. Gunung Tambora (2.851 mdpl) yang kecokelatan dan diselimuti lebatnya hutan lindung mendominasi topografi semenanjung utara Sumbawa. Perjalanan menuju Tambora memakan waktu 5 Jam naik bus dari Dompu. Rute pendakian Tambora dapat dimulai dari Desa Pancasila yang berada di kaki gunung. Pendakian Tambora biasa ditempuh selama 3 hari 2 malam lewat hutan lindung. Tambora memiliki kawah berpanorama amat spektakuler.

Nanga Tumpu
4. Nanga Tumpu
Nanga Tumpu terletak di rute Jalan Raya Sumbawa-Dompu yang berada 30 Km dari kota Dompu dengan waktu tempuh 25 menit. Kawasan ini dihiasi berbagai gugusan pulau kecil, seperti: Nisa Pu’du, Nisa Rate, Nisa Maja, dan Nisa Ko’do. Kawasan Nanga Tumpu dan sekitarnya sangat cocok untuk kegiatan berenang, memancing, dan menyelam. Sekitar bulan Januari, Februari, Maret, Juli, dan Agustus sangat ideal untuk kegiatan olah raga Wind Surfing, Kite Surfing, dan Lomba perahu layar tradisional.

Ilustrasi Nanga Doro
5. Nanga Doro
Nanga Doro adalah resort pegunungan tradisional di dekat Hu’u yang terkenal dengan sumber mata air panasnya—suhu air di sini mencapai 800 C. Tempat ini merupakan tempat yang
pas untuk beristirahat dan melemaskan otot setelah sehari penuh berselancar.

 
Ilustrasi Situs Nangasia
6. Situs Nangasia
Dompu juga memiliki situs purbakala yang diperkirakan sudah ada sejak 4.500 SM. Situs ini berisi berbagai peninggalan masa lampau berupa manik-manik dan keramik. Nangasia kemungkinan dulunya adalah pusat kegiatan leluhur masyarakat Dompu. Sebab, di sini ditemukan Wadu Kadera yaitu batu berbentuk kursi yang menjadi tempat penobatan para Ncuhi, bekas telapak kaki Ncuhi, dan kubur duduk. Nangasia terletak di kawasan wisata Lakey.

Kolam Pemandian Madaprama
7. Madaprama
Madaprama adalah
kawasan hutan lindung yang menjadi rumah bagi para marga satwa dan flora. Terletak sekitar 4 Km dari kota Dompu, Madaprama juga dilengkapi kolam renang dengan panorama indah.
 
Pantai Ria
8. Pantai Ria
Pantai ini berada di
Desa Riwo Kec. Woja, sebelah barat Teluk Cempi. Pantai Ria yang alami dengan pasir putihnya yang lembut merupakan salah satu wilayah terpencil di Sumbawa Tengah. Pantai Ria banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal dari daerah Dompu dan Sekitarnya.



Penginapan

RINJANI – Hotel & Restaurant
Jl
n. Jend. Sudirman, Dompu.
Kontak : (0373) 21445

ADHIYAKSA – Hotel & Restaurant
Jln. Mahoni No. 24 Doro Tangga, Dompu.
Kontak : (0373) 21708

SAMADA – Wisma
Jln. Gajah Mada No. 18 Bada, Dompu.
Kontak : (0373) 21417

RUKA WANGA – Wisma
Jln. Syekh Muhammad No. 1 Lingk. Sawete Bali I, Dompu.
Kontak : (0373) 21643, (0373) 21201, 081917600076

KOTA BARU – Wisma
Jln. Sonokling No. 8 Kota Baru Bada, Dompu.
Kontak : 081918044855

SAHAB – Hotel & Mini Restaurant
Jln. Soekarno-Hatta, Dompu.
Kontak : (0373) 21577

PRAJA – Wisma
Jln. Soekarno-Hatta No. 26 Kota Baru Bada, Dompu.
Kontak : 081353489382


Akomodasi

Dari Denpasar ke Dompu
1.     Naik bus ke Dompu Rp300.000 (2.5 hari).
2.     Naik pesawat ke Bima Rp800.000, dari Bima naik bus ke Dompu Rp10.000

Dari Jakarta ke Dompu
1.     Naik bus ke Dompu Rp550.000 (3.5 hari).
2.     Naik pesawat ke Bima 1.4 juta, dari Bima naik bus ke Dompu Rp10.000


Testimoni Turis
            Semenarik apa sebenarnya Dompu? Mari kita simak beberapa komentar turis yang pernah berkunjung ke sana!

Pengelana Angan:
“Pantai Lakey atau Lakey Beach yang terletak di Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat, adalah salah satu lokasi berselancar terbaik yang diakui oleh dunia ... Pantai Ria adalah tempat yang tepat untuk melarikan diri dari rutinitas keseharian yang melelahkan dan bersantai ria dengan keluarga. Karena ketenanganya, Pantai Ria digemari khususnya oleh para pemancing. Daerah favorit untuk memancing adalah tebing ‘Doro Belanda’ ... Selain situs purbakala, di kawasan wisata Lakey juga terdapat obyek wisata Air Panas Lamea, Goa Jepang, dan Kampung Purna sebagai kampung tertua penduduk asli Dompu. Sayang, jalan menuju ke kampung yang kosong dan tak’ ditempati itu juga sulit dijangkau, sebab rutenya berkelok-kelok dan berupa batu-batu lepas ... Hanya sayang, kepedulian pemerintah dirasakan masih kurang. Wisata di pulau Sumbawa pada umumnya masih kalah bersaing dengan pulau Lombok dan pulau Bali ... Yang perlu mendapat perhatian khususnya di Pantai Lakey adalah perbaikan infrastruktur, sebab jalan menuju pantai masih rusak parah, kebersihan lingkungan juga kurang memadai, serta pasokan air bersih masih tersendat. Selain itu sarana transportasi juga perlu lebih diintregasikan untuk memudahkan pengunjung mencapai Pantai Lakey. Akomodasi termasuk penginapan juga harus memerhatikan unsur keamanan dan kenyamanan.”

Catatan si Kudaliar:
Yang paling menarik dari danau ini (Satonda) adalah pohon yang terdapat di tepinya. Pohon berbuah batu. Pohon Kalibuda, si pohon harapan. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana tradisi menggantung batu di pohon tepian danau bermula.”

Abdul Azis, Kampung Media Sanggicu Dompu:
“walau di pantai Ria tidak seperti pantai Lakey yang banyak dikunjungi para wisatawan Asing, namun di sana tidak kalah indahnya ...”

Pengunjung asal Bima, Kampung Media Sanggicu Dompu:
“Pantai Ria lebih indah daripada pantai manapun, hanya saja belum terawat begitu maksimal, dan jika saja terawat mungkin lebih daripada ini pemandangannya.”

Pecinta Alam [Dot] Net:
“Tambora adalah salah satu gunung yang cukup terkenal di kalangan para pendaki baik dari Indonesia maupun manca negara ... Sepanjang perjalanan (menuju Tambora) akan terlihat peternakan dan padang rumput yang sangat luas dengan kerbau yang hidup secara liar. Kerbau tersebut hidup dan berkembang biak secara alami tanpa perawatan khusus dari pemilik lahan ... Industri lain yang berkembang di sana adalah industri kayu dan rotan. Juga banyak terdapat perkebunan Kopi, Cokelat, dan Jambu Mete ... semakin menanjak, penuh pasir dan batu. Mendekati bibir kawah kita akan menemui dataran yang sangat luas mirip padang pasir dengan butiran pasir yang halus yang sangat menyiksa mata bila tidak kita lindungi ... Selama perjalanan dari bibir kawah ke puncak banyak ditemui bunga Edelweis ... Dari puncak kita bisa menyaksikan keindahan kawah Tambora yang membentang luas. Sungguh merupakan pemandangan alam yang tidak ternilai harganya.”

        Semoga, tulisan ini bisa menggambarkan pada anda keelokan alam kabupaten Dompu. Akhir kata, saya mohon maaf apabila ada salah penulisan/informasi baik yang disengaja ataupun tidak.