Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2014

[KulinerDaihatsu] Berburu Kuliner Palembang di Bandar Lampung


            Sejarah mencatat bahwa sebelum 1964, daerah Lampung masih bergabung dengan Sumatera Selatan. ibu kota Lampung berjarak ±374 Km dari Palembang, kedua kota dihubungkan oleh jalan raya dan jalur kereta api. Melihat itu, tidak heran jika pertautan kedua wilayah ini begitu erat, termasuk soal budayanya. Bukti nyata lain terlihat dari keseharian sebagian penduduk Lampung yang bertutur bahasa Palembang. Masyarakat Palembang di Lampung membawa serta beberapa produk kebudayaannya seperti kuliner dan songket. Jika lama tinggal di Lampung, anda pula akan menemui bahwa tekwan dan pempek jadi sajian wajib di tiap hajatan.

            Kota saya juga memiliki banyak kedai makanan khas wong kito yang menyediakan aneka pempek, tekwan, kemplang, pepesan, dan pindang. Dijamin kalian tidak bakal repot bila ingin mencicipi selera Palembang atau sekedar mencari buah tangan. Ini adalah rekomendasi beberapa tempat yang bisa anda kunjungi:


Pempek Tenda Biru
Pempek Tenda Biru Cab. Kyai Maja
            Warung pempek yang pertama saya kunjungi ini berada di Jln. Kyai Maja no. 40, Way Halim. Tenda Biru bermula dari sebuah warung pempek kecil di halaman samping rumah di Jln. Urip Sumoharjo dekat rel pada sekitar 2006. Dinamai Tenda biru karena dulunya warung ini dinaungi terpal biru. Tenda Biru sampai sekarang sudah memiliki tiga cabang, di antaranya terletak (1) di Jln. Z.A. Pagar Alam no. 57; (2) Jln. Kyai Maja no. 40; (3) Jln. Tamin no. 51. Cabang Tenda Biru di Kyai Maja terbilang bagus karena tempatnya teduh serta parkirnya pun luas. Tenda Biru biasanya ramai saat liburan atau kira-kira di atas pukul 16:00 di hari biasa. Sesekali, bus rombongan dari luar kota seperti Bandung mampir ke sini untuk makan. Menu Tenda Biru relatif lengkap, anda bisa mengeceknya di website resmi sebelum ke sana. Tenda Biru sering menerima pesanan pempek untuk hajatan. Tenda Biru juga melayani pesanan pempek hingga Jakarta, Bandung, dan Bogor. Cabang Tenda Biru di Kyai Maja ini hanya sebagai kedai penjualan sedangkan, lokasi produksi ada di tempat lain.

           

Saat di sana saya memesan model, pempek telur, kulit, adaan, es kacang merah, dan srikaya. Berikut, sedikit ulasannya:


Cuka
Cuka Tenda Biru
Cuka adalah kuah yang terbuat dari campuran air, gula merah, gerusan ebi, bawang putih, cabai, dan asam jawa. Cuka Tenda Biru agak pekat, berwarna gelap, sedap, cukup pedas, dan punya rasa kuat. Cuka Tenda Biru bisa tahan dua hari di luar kulkas. Cuka adalah pembeda produk Tenda Biru dengan kompetitornya. Cuka Tenda Biru disediakan di meja dalam sejenis botol minum polimer.

Pempek Kecil
Pempek Kecil Pempek Tenda Biru
Pempek telur, kulit, pistel, keriting, lenjer, dan adaan adalah tipe pempek kecil. Tekstur pempek Tenda Biru lembut dan empuk dengan komposisi rasa yang seimbang. Pempek Tenda Biru digoreng dalam waktu yang cukup sehingga tidak terlalu kering dan garing. Warna pempek Tenda Biru yang menggoda bakal makin cantik setelah diguyur cuka. Pempek Tenda Biru memakai campuran beberapa ikan sebagai bahan baku. Ketika dimakan bersama, rasa pempek Tenda Biru cenderung didominasi kesedapan cukanya.

Model
Model Pempek Tenda Biru
Model adalah pempek dalam ukuran lebih besar yang dinikmati bersama kuah, bukan cuka. Model diolah dengan cara direbus lalu digoreng yang kemudian diiris sedikit supaya agak merekah dan disajikan dalam kuah kaldu hangat. Model biasanya berisi tahu atau telur. Model Tenda Biru ketika dihidangkan dibubuhi gilingan ebi di atasnya. Tekstur model Tenda Biru sangat empuk dan sedikit kenyal. Porsi model di sini juga relatif dapat mengganjal perut. Kuah model Tenda Biru berisi soun, sedikit daun bawang, dan cacahan timun. Kuah ini rasanya asin-asin sedap dan amat menonjol bahkan ketika dimakan bersama model.

Es Kacang Merah
Es Kacang Merah Pempek Tenda Biru
Sebagai penghilang dahaga saya memilih es kacang merah khas Palembang. Kudapan ini terbuat dari campuran santan, gula pasir, kacang merah yang sudah direbus, gula jawa, dan serutan es plus sedikit susu kental manis ketika penyajiannya. Rasanya segar, manis, dan enak—terutama kacang merahnya yang empuk serta saat dikunyah mengeluarkan sari gula. Es kacang merah di Tenda Biru dihidangkan dalam mangkok. Es kacang merah ini mampu mendinginkan tenggorokan dari hangatnya kuah model serta menetralisir pedas setelah melahap pempek.

Srikaya
Srikaya Pempek Tenda Biru
Cemilan hijau ini baik dijadikan santapan penutup. Terbuat dari campuran telur, santan, pandan, dan gula—cocok dinikmati bersama ketan. Disajikan dalam cangkir kecil lengkap dengan sebuah sendok plastik mungil. Srikaya Tenda Biru rasanya legit dan kentara telurnya. Tekstur srikaya Tenda Biru seperti agar-agar. Ketika dimakan bersama ketan, rasa panganan ini jadi unik. Kita tidak akan lagi fokus ke manisnya srikaya namun, mulai sedikit mengecap gurihnya ketan. Saya baru pertama kali mencicip kue basah ini dan langsung suka.


            Kesimpulan saya pempek Tenda Biru, baik yang disajikan dengan kuah kaldu maupun cuka, lumayan enak, agak kenyal, dan empuk. Harga yang dipatok pun cukup terjangkau. Jika mencicip beberapa kudapan di sini berturut-turut (seperti srikaya, es kacang merah, dan pempek) anda akan tahu bahwa perpaduan rasa legit, asin, pedas, asam, dan gurih mereka harmonis. Ini menandakan hidangan-hidangan di Tenda Biru dibuat dalam satu selera yang sama. Kalian bisa datang ke sini sekali-kali jika ingin mencoba.


Pempek 88
Pempek 88
            Jalan-jalan saya lanjutkan dengan mengunjungi tempat kedua yaitu kedai Pempek 88 yang terletak di Jln. Salim Batubara, Kupang Teba, Teluk Betung Utara. Sepanjang Salim Batubara anda akan menemui banyak warung pempek yang uniknya hampir semua dinamai dengan nomor. Saya tertarik mampir ke Pempek 88 karena pempek di sini terbuat dari ikan Belida. Konon Belida adalah ikan yang paling ideal untuk dibuat pempek. Saya di sini juga tertarik mencoba pempek panggangnya. Karena sebelumnya, saya tidak pernah makan pempek panggang berbahan ikan kelas wahid seperti di Pempek 88.

            Warung Pempek 88 memiliki fasilitas parkir yang memadai. Ketika memasuki halaman anda bakal melihat deretan meja dengan kursi-kursi plastik di dalam; tempat memanggang pempek di pelataran kiri. Pada tembok dekat kasir anda dapat pula melihat papan biru besar yang menghadap ke luar bertuliskan “ASLI BELIDA”. Setelah memesan anda bakal disuguhi teh tawar hangat yang diantar langsung ke meja. Pempek 88 tiap minggunya senantiasa mendapat pesanan untuk acara hajatan. Semua pempek di sini laris kecuali pempek pistel. Pempek 88 juga biasa melayani pesanan dari Jakarta.                                                                                                                                        
           

Sewaktu di sana saya memesan lenggang goreng, kapal selam, dan pempek panggang. Berikut, sedikit ulasannya:


Cuka
Cuka Pempek 88
Cuka Pempek 88 cenderung lebih encer, warnanya cokelat tua, saat ditenggak rasanya pedas menyengat, sedikit manis, sedap, dan kurang terasa asamnya. Jika diperhatikan anda bakal melihat cukup banyak serpihan cabai di dalamnya. Cuka di Pempek 88 diwadahi dalam botol beling berwarna gelap.


Pempek Panggang
Pempek Panggang Pempek 88
Pempek panggang disajikan bersama sambalnya yang berwarna cokelat gelap yang terbuat dari campuran cabai, kecap, dan ebi. Pertama kali mencicipi pempek panggang Belida Pempek 88 saya bingung. Sebab pada umumnya pempek panggang itu agak keras kulitnya dan kenyal di dalam. Sedangkan pempek panggang di sini teksturnya dari kulit sampai ke dalam lunak mirip kue moci. Tapi, ternyata inilah ciri unggulnya. Jika pempek panggang biasa setelah beberapa jam teksturnya mengeras, tidak begitu dengan pempek panggang di sini. Rasa dan teksturnya tetap sama seperti saat baru disajikan. Pempek panggang Pempek 88 juga memiliki rasa yang sangat kuat bahkan mampu mengalahkan sambalnya sendiri. Menurut saya inilah pengalaman baru dalam makan pempek.          

Pempek Lenggang Goreng
Lenggang Goreng Pempek 88
Lenggang goreng adalah kumpulan potongan kecil pempek yang  kemudian digoreng bersama telur sebagai perekatnya. Ini adalah favorit saya karena, di sini pempek bertemu dengan telur dadar. Rasa khas telur yang menyelimuti potongan pempek membuat kudapan ini menyenangkan untuk dikunyah. Lenggang goreng dihidangkan bersama soun, cacahan timun, taburan ebi giling, dan cuka. Lenggang goreng Pempek 88 memiliki rasa yang sedikit kenyal, khas, empuk, dan enak. Ketika dimakan bersama lenggang goreng, anehnya rasa agak asam dan manis cuka justru makin kentara. Berbeda dengan sewaktu cuka ditenggak sendirian yang rasanya lebih dominan pedas.

Pempek Kapal Selam
Pempek Kapal Selam Pempek 88
Pempek kapal selam adalah pempek isi telur dalam ukuran yang lebih besar. Kapal selam Pempek 88 disajikan dalam porsi yang pas. Ukurannya sekitar sekepal tangan orang dewasa. Kapal selam di sini sudah diiris merekah dan disajikan bersama taburan gilingan ebi, soun, dan cacahan timun. Patut diperhatikan bahwa ebi giling di sini teksturnya dibuat sehalus bubuk. Saat berusaha membelah-belah anda juga akan mendapati tekstur yang sedikit kenyal, empuk, dan matang merata. Pempek kapal selam Pempek 88 ringan di mulut; sensasinya luar biasa ketika disantap bersama cuka bahkan, pedasnya pun kalah dan hanya tersisa manis saja. Niscaya otak cuma bakal berkonsentrasi pada nikmatnya pempek Belida ini.


            Kesimpulannya: ada harga ada rupa. Pempek 88 memang sedikit lebih mahal tapi jelas rasa beda jauh dengan pempek biasa. Pempek 88 tidak bersaing di level Tenggiri, mereka spesialis Belida. Pempek 88 sangat terasa ikannya; menurut saya mereka merepresentasikan citra pempek sesungguhnya. Anda wajib coba pempek di sini! Jangan lupa pula bawa sedikit untuk yang di rumah!




            Supaya makin gamblang, anda bisa lihat video saya tentang makanan kedua kedai tersebut di bawah. Maaf bila nantinya ada beberapa kesalahan di sana.

*Ubah ke layar penuh (full screen) untuk tampilan lebih jelas!


Pempek Jalanan

            Bandar Lampung memiliki sebaran penjaja pempek dari pinggiran jalan sampai ke yang keliling-keliling di perkampungan. Harga per biji mereka biasanya di bawah Rp1.000, rasanya lumayan. Sekolah juga kadang jadi tempat yang bagus jika anda hendak mencari pempek murah. Anda bisa menemukan beragam pempek dari mulai lenjer, pistel, sampai panggang. Walaupun pempek tidak jadi menu sarapan seperti di Palembang tapi, cemilan ini tetap amat lekat di hati warga Lampung.






Kamis, 29 November 2012

[EnjoyJakarta] Berkunjung ke Ragam Wisata Jakarta Dalam Sehari


            Sebagai orang yang setiap hari menonton TV, kita pasti sering menyaksikan berita tentang Jakarta—entah itu soal politik, hukum, sosial, ekonomi, dsbg. Jakarta selalu digambarkan sebagai kota serba ada, ramai, gemerlap, unik, dan lengkap dengan tempat eksotis. Namun dari sekian banyak kesan yang digambarkan, bisakah anda merangkumnya dalam sehari?

            Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Paman yang tinggal di bilangan Kebon Melati. Saya memang sudah merencanakan perjalanan  ini untuk menjadi akhir pekan paling Jakarta yang pernah ada. Pagi-pagi sekitar jam 10:00 kami sudah pergi dari rumah mencari Kopaja ke arah Gatot Subroto. Rencananya kami ingin melihat-lihat museum Satria Mandala. Saya tertarik sekali ingin ke sini sebab beberapa kali melihat di TV tempat ini memiliki banyak koleksi senjata api, pesawat, meriam, roket, torpedo, diorama, dan tank-panser klasik.

            Satria Mandala dulunya adalah Wisma Yaso rumah Bu Dewi Soekarno—tempat disemayamkanya jenazah Presiden pertama RI sebelum dikebumikan di Blitar. Satria Mandala diresmikan pada 5 Oktober 1972 dengan luas 56.670 m2 yang terdiri dari beberapa bangunan dan taman hijau yang terawat. Tiket masuk ke sini Rp2.500 untuk dewasa/umum dan Rp1.500 untuk mahasiswa/pelajar/anak-anak. Buka hari selasa-minggu jam 09:00-14:30 dan tutup tiap senin/hari besar nasional. Halaman depan Satria Mandala dihiasi oleh roket, pesawat jet, air mancur, dua buah meriam, tank, dan radar. Tapi, anda akan sulit melihatnya dari luar karena terhalang penghijauan di bagian depan. Satu-satunya penanda yang cukup mencolok adalah tulisan di bangunan (pos jaga) mirip benteng yang ada di samping pintu masuk.

Tulisan di depan museum

(1) Roket SA-75 dan (2) radar NYSA B

            Begitu masuk anda akan disuguhi pemandangan yang kontras dengan Gatot Subroto yang sibuk, riuh, dan dijejali gedung tinggi. Halaman depan Satria Mandala ditumbuhi pepohonan rimbun dan taman berumput luas yang memberi kesan damai-menyejukan. Loket karcisnya terletak di bangunan utama yang berpintu kayu berukiran menarik dengan nuansa antik. Jika anda membawa kamera tinggal tambah uang Rp2.000, karcis lalu diberikan dan akan diminta oleh petugas penjaga pintu.

            Pertama masuk kita akan menjumpai ruang yang di kanan terdapat lima lambang angkatan bersenjata nasional, kiri ada panji-panji kebesaran TNI, dan di depanya ada teks proklamasi. Belok ke kiri ada deretan diorama patriotis yang mengisahkan perjuangan di awal-awal terbentuknya Republik Indonesia. Diorama tersebut mungkin ingin mewakili semangat pendirian museum ini yang bertujuan melestarikan nilai juang 45. Pada samping kanan tiap diorama terdapat kotak teks berisi kisah singkat dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Ruang Depan
Keterangan:
1. (kiri ke kanan) Lambang POLRI, TNI AU, ABRI, TNI AL, dan TNI AD
2. Teks Proklamasi

Klik untuk meperbesar
Keterangan:
1. Lorong diorama
2. Diorama peristiwa proklamasi
3. Diorama pembentukan BKR
4. Diorama badan-badan perjuangan bersenjata
5. Diorama angkatan muda polisi bergerak
6. Diorama pembentukan TKR
7. Diorama pertempuran Surabaya
            Lanjut ke ruang selanjutnya yang khusus didedikasikan untuk koleksi properti empat jendral besar Indonesia: Oerip Soemohardjo, Soedirman, A.H. Nasution, dan Soeharto. Beranjak ke ruang sebelah yang juga dipenuhi Diorama perang pasca kemerdekaan, rak berisi pangkat, brevet, lambang kodam seluruh Indonesia, manekin berseragam Kontingen Garuda (KONGA), TKR, badan-badan perjuangan senjata, dan foto-foto misi KONGA. Saya sangat tertarik pada beberapa brevet, yang mungkin keren jika disematkan pada baju atau topi. Di lantai yang sama juga terdapat ruang khusus yang menjelaskan sejarah keorganisasian serta peran TNI dalam sejarah nasional. Sayangnya beberapa lampu dalam ruangan ini mati sehingga menimbulkan kesan gelap dan menyeramkan.

Ruang sejarah keorganisasian TNI

Klik untuk memperbesar
Keterangan:
1. Lukisan Jend. Soedirman
2. Lukisan Jend. Oerip Soemohardjo
3. Patung Jend. A. H. Nasution
4. Patung Jend. Soeharto

Memorabilia Jend. Soeharto
Keterangan:
1. Foto Pak Harto bersama Bu Tien
2. Seragam kebesaran Pak Harto
3. Kartu pos edisi PELITA
Klik untuk memperbesar
Keterangan:
1. Upacara pengerekan bendera
2. Seragam TKR
3. Seragam KONGA
4. Seragam badan-badan perjuangan bersenjata

Foto-Foto Misi KONGA

(1) Pangkat TNI, (2) Lambang KODAM seindonesia, dan (3) Brevet



Keterangan:
1. Diorama pertempuran 5 hari Semarang
2. Diorama dapur umum saat perang kemerdekaan
3. Diorama petermpuran Ambarawa
4. Diorama proklamasi di Medan
5. Diorama Bandung lautan api
6. Diorama serangan laut Banyuwangi-Bali
7. Diorama peristiwa penurunan bendera Belanda di hotel Yamato Surabaya
8. Diorama perebutan pangkalan udara Bugis Malang
9. Diorama petempuran Bogor
10. Diorama pertempuran Cibadak
11. Diorama peristiwa 3 daerah (PKI)
12. Diorama pertempuran Krueng Panju (Aceh)
13. Diorama ekspedisi Maluku
14. Diorama pertempuran 5 hari di Palembang
15. Diorama tanda bahaya dalam perang kemerdekaan
            Turun ke bawah ada ruang ajaib yang berisi koleksi senjata api lama, torpedo, ranjau, dan kemudi kapal selam. Ini pastilah seksi favorit bagi pecinta Airsoft dan para penggila permainan First Person Shoot (FPS) seperti Call of Duty dan Medal of Honor. Di sini anda bisa menyaksikan langsung wujud asli Lee Enfield, Thompson, Sten, Arisaka, M1 Garand, penyembur api (flame thrower), AK 47, M16, Browning, Bren, Mitrailleur, FN, senapan anti udara (AA Gun), UZI, bazooka, dan masih banyak lagi. Sedikit berkarat namun tidak mengurangi kesan garang dan agresif senjata tersebut. Bila anda coba mengangkat beberapa senjata mesin yang di pajang di luar etalase. Anda akan menyadari betapa berat besi-besi ini jika harus dibawa ke mana-mana. Sudah sepatutnyalah kita menghargai para pejuang yang rela menyandang senjata dan mengorbankan jiwa raga demi tetap tegaknya NKRI.

(1) Bom samaran, (2) bom udara, ranjau darat, Sten, (3) biola, dan trompet.

Koleksi senjata dalam Etalase

Deretan senjata mesin
            Keluar dari ruang senjata rupanya masih ada lokasi menakjubkan lain yang berisi koleksi pesawat, helikopter, meriam artileri, mobil, dan gerbong panser. Lokasi ini begitu rindang dan cocok dijadikan tempat santai sebelum beranjak ke bagian lain museum. Inilah salah satu lokasi favorit untuk foto-foto. Anda bisa coba foto di dekat pembom legendaris B 25 Mitchel, Cureng, Gannet, atau Douglas C-47. Selain Foto, anda pula dapat membaca sejarah singkat tiap armada. Di lingkungan ini pula terdapat ambulans, sedan hitam, dan gerbong panser yang berkaitan dengan sejarah penumpasan DI/TII.

Klik untuk memperbesar
Keterangan:
1. Pesawat B 25 Mitchell
2. Pesawat Cureng
3. Pesawat Nishikoren
4. Pesawat AT-16 Harvard
5. Pesawat Gannet
6. Pesawat Douglas C 47
7. Pesawat P2L-104 Gelatik-C
8. Pesawat Piper L-47
9. Pesawat WEL-1
10. Pesawat NU-25 Kunang
11. Helikopter MI-4

Memoriabilia Penumpasan DI/TII
Keterangan:
1. Ambulans Dinkes pemerintah kota Bandung
2. Gerbong Panser dan tampak dalamnya
3. Sedan hitam yang ada bekas tembakan di kanan-kiri pintunya

Meriam Artileri

            Jalan ke belakang kita akan menjumpai bagian khusus TNI AL. Di sini terdapat kolam simulasi dermaga, meriam anti udara, dan roket. Ini juga lokasi favorit saya untuk mengambil foto. Anda bisa duduk di bangku belakang meriam dan berpura-pura sedang membidik target udara. Lanjut belok ke kanan depan anda akan menemukan deretan tank-panser dari ukuran kecil sampai besar. Mereka rata-rata memiliki sejarah terkait penumpasan G 30S/PKI. Di dekat deretan panser tersebut juga ada taman yang sejuk serta aula dengan banyak patung di dalamnya. Kebetulan waktu keluar kami menjumpai banyak anak SD, TK, dan segerombolan muda-mudi yang juga sedang mengunjungi museum.

Taman dalam area Satria Mandala

Aula Satria Mandala

Klik untuk memperbesar
Keterangan:
1. Suasana di sekitar bagian TNI AL
2. Rudal
3. Simulasi dermaga
4. Meriam Vickers
5. Meriam PSV 40 mm L60 Bospors

Klik untuk meperbesar
Keterangan:
1. Pintam/BRDM
2. Pansrod BTR 152 P
3. Pansam BTR 50 P
4. PT 76
5. Kapa K61
6. Mobil intai Humber
7. Jeep Willys
8. Truk 3/4 lapis baja
9. Stuart M3
10. Panhard tipe 54-11

Suasana ramai di depan museum

Anak-anak bermain di sekitar meriam

            Puas berputar-putar, kami lalu pulang ke rumah sebentar—untuk makan dan men-charge HP—dengan menumpang Metromini yang dilanjutkan naik Mikrolet ke arah Tanah Abang. Moda-moda transportasi seperti Kopaja, Mikrolet, dan Metromini merupakan akomodasi yang wajib dicoba jika berkunjung ke Jakarta. Kita bisa menikmati gedung pencakar langit, proyek jembatan layang Tanah Abang-Kampung Melayu yang rangka bajanya membuat anda seperti ada di Cybertron, dan tentu saja atmosfer sosial masyarakat Jakarta.

            Kebon Melati juga terletak tidak jauh dari komplek Kempinski Bundaran Hotel Indonesia. Suasana malam di sini bagus dan ramai. Anda bisa mengajak teman untuk sekedar nongkrong atau jalan-jalan ke mal yang ada di sekitarnya. Siang harinya kita dapat menjelajahi pusat batik di Thamrin City dan dilanjutkan ke Grand Indonesia. Walaupun tidak belanja, namun setidaknya mata anda akan terpuaskan ketika berkunjung ke Grand Indonesia. Mal ini terlihat besar dan megah bahkan jika cuma dilihat dari kejauhan. Anda dapat berkeliling dan menikmati restoran bermacam cita rasa serta tema-tema tiap lantai yang variatif—dari mulai Cina, Jepang, Eropa, dan New York.

            Anda akan berjumpa banyak ekspatriat lalu lalang di sini. Mal ini sangat besar dan rentan membuat pengunjung tersesat. Tapi, jangan takut! Karena di tiap lantai telah disediakan papan denah. Dalam satu hari kita pasti sulit menjelajahi kedua sisi mal sekaligus: Barat (west mall) dan timur (east mall). Jadi pilih salah satu saja! Grand Indonesia juga mempunyai atraksi spektakuler yaitu orkestra air mancur yang keluar tiap satu jam sekali. Tata lampu dan lambaian air yang seakan menari akan membuat anda lupa diri karena kagum terpukau. Saya juga sempat foto di depan salah satu instalasi tembok kayu yang artistik. Bagi anda penggemar Iron Man dan Spider Man, di salah satu sudut ada dua action figure besar tokoh-tokoh ini. Tempat tersebut juga dilengkapi bangku untuk beristirahat atau sekedar duduk-duduk. Jika jeli, anda akan menemukan suatu ruang unik dengan karpet lucu yang berisi ATM berbagai bank. Lama mengelilingi mal, saya jadi ingin buang air kecil. Anda akan senang mendapati fasilitas toilet di sini yang bersih, mewah, rapih, dan ada musiknya. Satu yang patut pula dihargai, Grand Indonesia menerapkan konsep Go Green lewat penyediaan kotak sampah dengan pemisahan organik-anorganik di salah satu sudut pintu masuknya.

Salah satu sudut Grand Indonesia

Instalasi tembok artistik di sebuh restoran Grand Indonesia

Saya dan Iron Man

            OK! Kujungan kita lanjutkan ke Senayan dengan menumpang Kopaja. Celakanya karena keasyikan ngobrol kami jadi kelabasan. Terpaksalah kami turun di terminal Blok M. Tapi, bagi saya kejadian ini ada hikmahnya. Karena pada waktu itu hujan deras—jadi tidak mungkin untuk jalan kaki ke komplek Senayan. Setelah putar-putar naik Kopaja, berhentilah kami di suatu lampu merah yang langsung dilanjutkan dengan berjalan kaki. Di sini anda bisa melihat tonggak-tonggak beton proyek mono rail. Selama perjalanan kami juga berpapasan dengan banyak supporter Persija yang baru pulang.

            Perjalanan kami melewati simpang hotel Millenium, terus ke Senayan, dan melintasi gerbang lain dari gedung DPR RI serta Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Kebetulan kami sedang beruntung karena bisa menikmati gegap gempita keceriaan pendukung Persija. Yel-yel serta lagu-lagu pengobar semangat berkumandang dan diiringi tabuhan drum yang menambah meriah suasana. Sebenarnya saya ke sini ingin mencicipi makanan di Food Expo. Tapi sialnya kami salah informasi. Karena Food Expo tidak dihelat di Jakarta Convention Center (JCC) melainkan di Jiexpo Kemayoran (meleset jauh).

Simpang Hotel Millenium

Suasana meriah pendukung Persija di Senayan

Suasana JCC
            Namun tak perlu kecewa! Sebab kebetulan kemarin tengah diadakan tiga eksibisi sekaligus: Pameran furniture, museum nusantara, dan perlengkapan pernikahan. Keluar dari Balai konvensi anda dapat makan-makan di deretan warung sekitar lapangan tembak. Selesai dari JCC, kami jalan dan berhenti sebentar untuk menghangatkan badan dengan menikmati pangsit gerobak yang enak dengan hanya Rp10.000 per porsi. Hari kian gelap dan kami harus pulang karena takut tidak ada lagi Kopaja menuju Tanah Abang. Perjalanan usai, hati senang, perut kenyang, dan yang terpenting dapat menikmati Jakarta hingga sudut terkecilnya.